cokelat/kokoa (foto: Metabolic Effect)

Cokelat Indonesia, Sejarah dan Hari Cokelat Sedunia

Bisa dibilang, kalau semua orang menyukai makanan ini, ya cokelat. Dengan berbagai perisa, rasa lezat cokelat menjadi makanan kegemaran bagi semua kalangan.

Rabu (13/09/2017) kemarin, diperingati sebagai hari cokelat sedunia. Dilihat dari sejarahnya, cokelat pertama kali dikonsumsi pada tahun 1900 SM dan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan budaya suku Aztec dan Maya.

Bangsa Eropa kemudian mencampurnya dengan susu dan gula. Pada masa revolusi industri, cokelat kemudian diproduksi massal.

Sejak itu, era kejayaan cokelat dimulai di Eropa dan seluruh dunia. Tidak heran Eropa dikenal dengan pabrik cokelat berkualitas tinggi. Sudah menjadi kebiasaan pula jika oleh-oleh terbaik dari Eropa adalah aneka macam cokelat.

Meski awalnya cokelat berasal dari Amerika, saat ini produksi cokelat terbesar di dunia ada di Afrika, yaitu Pantai Gading (Cote d’Ivory), yang menguasai 30 persen pasar cokelat dunia. Namun, Anda mungkin belum tahu bahwa cokelat dengan kualitas terbaik justru berasal dari Indonesia. Eksistensi cokelat Indonesia, khususnya Jawa sudah ada sejak 1568.

“Kakao ditemukan jauh sebelum kopi. Kalau biji kopi ditemukan di Ethiopia pada abad ke-10, kakao sudah ditemukan 3.000 tahun yang lalu oleh Suku Olmec di Meksiko,” kata Mervyn Pereira, Principal dari Chocolate School by Tulip.

Pada tahun 1568, kakao dibawa dari Caracas (Venezuela) melintasi Samudera Pasifik menuju Kepulauan Maluku. Kemudian pada 1696, Dutch Governor Malabar (India) mengirimkan bibit kopi Arabika dari Maluku ke Batavia.

Produksi kopi di Batavia dimulai pada 1781. Mervyn mengatakan, perkebunan kopi terletak di Depok serta area yang kini terkenal sebagai Pondok Kopi. Pada 1781, kopi dari Batavia mulai diekspor ke luar negeri.

“Waktu itu hampir dua ton kakao diekspor ke Belanda. Indonesia adalah negara pertama, selain Amerika, yang mengekspor kakao ke luar negeri,” kata Mervyn.

Produksi kakao di Nusantara mulai meluas. Mervyn menyebutkan, kini produksi kakao tersebar di beberapa wilayah terutama Sulawesi. Pada 1850, wabah melanda seluruh tanaman kopi di Batavia sehingga perkebunan pun dipindahkan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Namun sampai sekarang, produksi kakao terpusat pada usaha-usaha kecil para petani. Padahal kakao Indonesia terkenal berkualitas tinggi,” katanya.

Pada 2015 Indonesia menempati peringkat ke-3 penghasil cokelat di dunia. Peringkat pertama adalah Cote d’ Ivoire (Afrika), kemudian Ghana, Indonesia, Nigeria, Kamerun, dan Brasil.

Namun sayangnya, dibanding kopi, “gaung” cokelat asli Indonesia tidak terlalu terdengar oleh masyarakat dalam negeri. Padahal sejarah dan eksistensi keduanya di Indonesia sangat bersinggungan.

“Warga kita sudah akrab dengan kopi Indonesia, namun belum dengan cokelat. Kita mungkin hafal daerah mana saja yang jadi penghasil kopi populer, Toraja, Aceh Gayo, Mandailing, Bali, Papua. Namun bagaimana dengan kakao?” kata Mervyn.

Oleh karena itulah, penting bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mengetahui potensi cokelat terutama asal Jawa. “Cokelat Jawa itu sangat terkenal di luar negeri. High grade dan harganya sangat tinggi,” katanya. []

Sumber: Halalifestyle


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Obbie Mesakh, Raja Pop 80-an

Hampir semua artis yang ia orbitkan berhasil menjual lebih dari 400.000 keping CD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *