Unik, Informatif , Inspiratif

Cuka Apel Digadang Sebagai Superfood Kini dan Nanti

0

Cuka apel, selain sebagai hidangan hingga penyedap. Bahan dari buah tersebut digadang-gadang akan menjadi obat di masa depan serta superfood.

Lintas sejarah

Berdasarkan pemberitaan CNA Lifestyle, secara historis cuka sudah digunakan dalam beberapa penyakit.

Salah satunya dokter asal Yunani, Hippocrates merekomendasikan cuka tersebut untuk penyakit batuk dan pilek. Kemudian dokter asal Italia, Tommaso Del Garbo, yang selama wabah penyakit tahun 1348 menyarankan mencuci tangan, wajah, dan mulut dengan cuka untuk mencegah infeksi.

BACA JUGA: Cuka, Benarkah Bisa Dimanfaatkan untuk Kecantikan?

Cuka dan air sudah menjadi minuman yang menyegarkan dari zaman tentara Romawi. Bahkan atlet juga meminumnya untuk menyegarkan tubuh.

Budaya kuno sudah menemukan manfaat dari rasa asam cuka tersebut. Meskipun banyak rekam sejarah terkait cuka, penelitian baru saat ini masih menantikan manfaat cuka yang lain. Namun bukti yang paling dapat diandalkan cuka bagi kesehatan, yakni mengenai studi cuka sari apel.

Cuka apel dan diabetes

Sebuah studi menunjukkan, cuka sari apel bisa meningkatkan kadar glukosa darah. Penelitian dilakukan terhadap 11 orang pra-diabetes yang meminum sekitar 20 mililiter air ditambah dengan satu sendok makan cuka apel.

Ternyata, cuka apel bisa menurunkan tingkat gula darah 30 sampai 60 menit setelah makan. Hal ini bagus namun hanya terjadi pada 11 orang pra-diabetes.

Pada studi lain, cuka apel diberikan pada orang kelebihan berat badan atau obesitas. Mereka mengalami penurunan berat badan, masa lemak, dan trigliserida secara signifikan.

BACA JUGA: Wah Ternyata Apel, Pemutih Gigi dari Alam

Penelitian diberikan terhadap 155 orang dewasa Jepang dengan obesitas. Mereka meminum sekitar 15 sampai 30 mililiter atau sekitar dua sendok makan.

Hingga saat ini belum ada bukti mengonsumsi cuka apel bisa berbahaya, kecuali mengonsumsinya dalam jumlah banyak atau dengan konsentrasi asam asetat tinggi. Cuka apel berasam asetat tinggi hanya dapat dikonsumsi sebanyak empat sampai delapan persen saja. []

SUMBER: REPUBLIKA


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Kamu Sedang Offline