Desa Sarongan di Banyuwangi Dijuluki Desa Pancasila

Daerah di Banyuwangi Ini Dijuluki ‘Desa Pancasila’

INSPIRADATA. Sebuah desa di Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, tepat berada di pinggir hutan kawasan Taman Nasional Meru Betiri, telah dijadikan sebagai Desa Pancasila.

Pasalnya, di desa tersebut terdapat tempat ibadah dari masing-masing agama. Tak hanya itu, mereka pun hingga kini hidup rukun tanpa konflik selama puluhan tahun.

“Salah satu makna dari Pancasila adalah gotong royong dan hidup rukun. Nah, Desa Sarongan ini adalah contohnya. Di sini lengkap tempat ibadahnya mulai dari masjid, gereja, wihara dan pura, tapi nggak pernah namanya ada konflik. Ini harus tetap dijaga dan saya mengapresiasinya sebagai Desa Pancasila,” jelas Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat berbuka bersama di Desa Sarongan, seperti dilansir oleh Kompas, Kamis (1/6/2017).

Selain kerukunan warganya, desa yang terletak sekitar 65 kilometer dari pusat kota Banyuwangi tersebut memiliki pemandangan alam yang sangat indah dan kerap menjadi destinasi wisata andalan. Pantai Sukamade yang terkenal dengan tempat konservasi Penyu dan juga Teluk Hijau dengan pantainya yang cantik.

“Tugas pemkab Banyuwangi adalah membangun infrastruktur jalan agar nyaman. Tinggal 4 kilometer yang masih rusak, sedangkan yang 20 kilometaran sudah diperbaiki. Tapi yang penting masyarakat tetap mempertahankan kerukunan umat beragama yang sudah dibangun selama ini. Agar menjadi contoh daerah lain,” jelasnya.

Sementara itu, Anang Sugeng, salah seorang tokoh agama yang tinggal di Desa Sarongan mengatakan, saat ini ada beberapa rumah ibadah, yang terdiri dari, 21 Masjid/Mushala, 1 wihara, 1 pura dan 4 gereja di Desa Sarongan. Bahkan ada tempat ibadah yang hanya berjarak 20 meter satu sama lainnya.

“Sebuah gereja berhadap-hadapan dengan masjid dalam satu desa. Tapi tidak masalah. Kami saling menghormati,” kata Anang.

Kerukunan juga terlihat ketika ada salah seorang warga yang meninggal. Semua tetangga yang ada akan ikut memakamkan jenazah tanpa melihat agama orang tersebut apa.

“Untuk ibadah pemakaman, yang mengurusi keluarga tapi persiapannya ya kita semua yang bantu,” tambahnya.

Bahkan, menurutnya, pada tahun 70-an, di Desa Sarongan sering digelar pertemuan masyarakat seluruh desa. Pada pertemuan tersebut hadir perwakilan tokoh agama masing-masing untuk menyampaikan pesan perdamaian dan kerukunan.

“Sekarang pesan itu disampaikan di masing-masing tempat ibadah. Contohnya di salah satu rumah ibadah. Sebelum ibadah kami selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya dan meletakkan simbol negara seperti Bendera Merah Putih. Desa Sarongan ini adalah desa yang tenang dan damai. Benar-benar mencerminkan Pancasila,” pungkas Anang. []


Artikel Terkait :

About Ferry Ardiyanto Kurniawan

Seorang anak muda dengan cita-cita luhur yang sedang berproses secara perlahan tanpa jeda!

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *