Unik, Informatif , Inspiratif

Dalam Shalat, Lebih Utama Memanjangkan Bacaan Surat-surat ataukah Sujud?

0

Sebagai kewajiban, Muslimin diimbau untuk menjaga semua unsur dalam shalat. Mulai waktu hingga hal-hal yang ada di dalamnya. Dalam shalat, terdapat rukun yang musti dilakukan. Qauliyyah (perkataan) dan Fi’liyyah (pekerjaan fisik). Tanpa itu, shalat kita sia-sia.

Di antara sekian banyak rukun, membaca Al-fatihah dan sujud masuk ke dalamnya. Yang kerap dicari fadhilahnya adalah memanjangkan bacaan surat setelah Al-Fatihah dan sujud.

Dari kedua hal itu, mana yang lebih utama, memanjangkan surat-surat daripada sujud atau sebaliknya?

BACA JUGA: Shalat dari 10 Orang Macam Ini Tidak Diterima Allah

Dalam Al-Adzkar An-Nawawi, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa waktu yang terbaik untuk membaca Al-Qur’an adalah dalam shalat.

Imam An-Nawawi kemudian menambahkan bahwa saking utamanya membaca Al-Qur’an dalam shalat, mazhab Syafi’i dan beberapa mazhab yang lain sampai mengatakan bahwa lebih utama memanjangkan bacaan Al-Qur’an dari pada memanjangkan sujud.

اعلم أن أفضل القراءة ما كان في الصلاة، ومذهب الشافعي وآخرين رحمهم اللّه : أن تطويلَ القيام في الصلاة بالقراءة أفضلُ من تطويل السجود وغيره

Artinya, “Ketahuilah bahwa (waktu) membaca Al-Qur’an yang paling utama adalah berada dalam keadaan shalat. Mazhab Syafi’i dan mazhab imam-imam lain rahimahullah menyebutkan bahwa memanjangkan (memperlama) berdiri dalam shalat untuk membaca Al-Qur’an lebih utama daripada memanjangkan sujud atau yang lain,” (Lihat An-Nawāwī, Al-Adzkār An-Nawāwī, [Beirut, Daru Kutub: 2004], halaman 159).

Namun, memperlama bacaan Al-Quran saat shalat ini lebih baik berlaku pada saat shalat sendiri. Jika melakukan shalat berjamaah, tidak diperkenankan membaca Al-Qur’an yang terlalu panjang, kecuali jika makmumnya memang bersedia dan bukan dari golongan tua yang tak mampu untuk menunggu bacaan panjang tersebut.

Sejarah memanjangkan bacaan

Hal ini pernah terjadi ketika Muadz bin Jabal mengimami shalat kaumnya dengan bacaan yang cukup panjang. Saat itu, ia membaca Surat Al-Baqarah.

BACA JUGA: Lain Bekas Sujud, Lain Pula Bekas Karpet  

Makmum yang merasa kurang nyaman dengan bacaan Muadz yang panjang tersebut meninggalkan jamaah dan melakukan shalat sendiri dengan bacaan yang lebih panjang, kemudian melapor kepada Rasul SAW.

Rasulullah kemudian memanggil Muadz dan memerintahkannya untuk membaca surat yang pendek saat menjadi Imam. Karena ada makmum yang tua, ibu-ibu membawa anak-anak dan ada yang memiliki kepentingan, bekerja misalnya, (Lihat Al-Bukhari, Sahih Bukhari, [Kairo: Daru Thauqin Najah, 1422 H], juz I, halaman 142). []

Wallahu a’lam. (Muhammad Alvin Nur Choironi)

SUMBER: NU ONLINE


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.