Foto: menuju sukses

Dana 50 Ribu ke Kotak Mushola

INSPIRADATA. Entah apa saya saja yang merasa bahwa membawa dana ke tempat belanja seumpama mall tidak bisa dengan jumlah yang teramat biasa. Jumlah teramat biasa artinya di bawah hanya lima puluh ribu rupiah saja.

Jika ke tempat belanja bawa dana biasa yang dimaksud oleh saya, maka saya suka merasa, dana itu tidak bisa cukup apa-apa. Apabila dibelanja makanan yang lada-lada seumpama pizza, si dana 50 ribu saja tak bisa.

Apalagi jika saya hendak belanja kemeja atau celana, itu dana segitu tak bisa dibayangkan bisa dibawa. Kalau masih nekad saja, bisa-bisa saya merasa paling bego sedunia. Iyalah, coba menurut logika, harga-harga kemeja atau celana bisa empat kali lipat lebih besar dari itu dana yang saya bawa. Jadi, sekurang-kurangnya, jika hendak ke tempat belanja, saya suka bawa dana sepuluh atau dua puluh kali lipat dari jumlah 50 ribu belaka.

Tapi celaka, saya suka merasa jika dana 50 ribu yang saya bawa, jumlahnya sangat raksasa manakala saya bawa ke tempat amal yang ada. Misalnya saja ke k mushola. Duh, berat rasa memasukkan si lima puluh ribu pada kotak dana. Muke gila, 50 ribu diberikan begitu saja? Akhirnya, saya lebih kerap hanya menyimpan Pattimura di kotak dana mushola. Kenapa ya?

Padahal, sepanjang massa, saya kerap ke tempat belanja tak hanya sekali saja. Dan tetap dengan membawa dana yang berjumlah raksasa. Tidak bisa biasa-biasa saja. Dan tetap saja, ketika ke mushola atau sejenisnya, yang saya keluarkan cuma Tuanku Pattimura.

Kalau sudah begitu raga, bagaimana bisa saya mendapatkan surga? Aduh, tolonglah saya agar tidak jadi orang yang amat susah mengeluarkan dana, karena seperti kata Nabi, ketika seseorang meninggal dunia, hanya ada tiga amal yang akan menolongnya sampai ke surga, salah satunya adalah jariyah dana…. Saya ini, tidak beramal, tidak sedekah, hendak apa saya mengharap surga? []


Artikel Terkait :

About Saefullah DS

Check Also

ibadah umrah di bulan ramadhan

Kalkulasi Ghaib di Sekitar Kabah

ketakjuban adalah salah satu anugrah tuhan. Karena hanya dengan ijinNYAlah, ketakjuban membuat seseorang menjadi beriman, bersyukur, dan merasakan segalanya menjadi manis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *