, Dewa 19, Berawal dari Kangen
Unik, Informatif , Inspiratif

Dewa 19, Berawal dari Kangen

0
, Dewa 19, Berawal dari Kangen
Foto: YouTube

INSPIRADATA. Di awal tahun 1990-an, hampir bisa dipastikan tidak ada remaja Indonesia yang tidak mengenal Dewa 19. Sebuah band, yang punya identitas kuat, berkat sentuhan dingin Ahmad Dhani, sang leader.

Pada tahun 1986, empat siswa SMPN 6 Surabaya mulai merenda mimpi-mimpi indah menjadi musisi terkenal. Dengan kemampuan pas-pasan mereka mengibarkan bendera DEWA.

Nama ini bukan sekadar gagah-gagahan, melainkan akronim dari nama mereka berempat: Ahmad Dhani Manaf (Keyboard, Vokal), Erwin Prasetya (Bass), Wawan Juniarso (Drum), dan Andra Junaidi (Gitar). Waktu itu kegilaan mereka pada musik sudah terlihat. Tidak jarang masing-masing terpaksa bolos sekolah, sekadar untuk bisa ngumpul dan genjrang-genjreng memainkan alat musik.

Dari Pop ke Jazz

Rumah Wawan di jalan Darmawangsa Dalam Selatan No. 7, yang terletak di salah satu sudut komplek Universitas Airlangga, menjadi markas mereka karena di sana terdapat seperangkat alat musik walaupun seadanya namun Dewa bisa berlatih sepuasnya.

 

Yang membedakan Dewa dengan grup Surabaya lainnya ketika itu adalah warna musik yang mereka mainkan. Kalau grup lain gemar membawakan aliran heavy metal milik Judas Priest atau Iron Maiden, Dewa muncul dengan lagu-lagu milik Toto yang lebih ngepop. Hanya semuanya berubah ketika Erwin yang doyan jazz mulai memperkenalkan musik fudion dari Casiopea.

Andra dan Dhani yang semula manteng di jalur rock, akhirnya ikutan juga. Format musik Dewa pun perlahan-lahan bergeser, bahkan mereka bukan cuma memainkan lagu-lagu Casiopea, tapi juga karya dari musisi jazz beken lainnya seperti Chick Corea atau Uzeb.

Dhani, Erwin, dan Andra lantas berangan-angan ingin seperti Krakatau atau Karimata, dua kelompok jazz yang lagi kondang saat itu.

Ini membuat Wawan murung. Penggemar berat musik rock ini merasa warna Dewa sudah keluar jalur. Akhirnya Wawan memutuskan keluar pada tahun 1988 dan bergabung dengan Outsider yang antara lain beranggotakan Ari Lasso.  Setahun kemudian menyeberang ke Pythagoras. Posisi Wawan di Dewa lantas digantikan kakak kelasnya, Salman.

Masuknya Ari Lasso

Nama Dewa pun berubah menjadi Down Beat, diambil dari nama sebuah majalah jazz terbitan Amerika. Untuk kawasan Jawa Timur dan sekitarnya, nama Down Beat cukup dikenal terutama setelah berhasil merajai panggung. festival. Sebut saja Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA ’90 atau juara II Jarum Super Fiesta Musik. Sementara itu Pythagoras pun berhasil jadi finalis Festival Rock Indonesia yang digelar promotor Log Zhelebor.

Tapi bagi keempat cowok yang secara psikologis masih dalam pencarian jati diri itu, jazz ternyata juga hanya sebuah persinggahan. Begitu nama Slank berkibar impian mereka pun berubah. Wawan Juniarso segera dipanggil kembali untuk menghidupkan Dewa dan Ari Lasso ikut bergabung.

Nama Dewa kembali tegak, bedanya kali ini pakai embel-embel 19 semata karena rata-rata usia pemainnya 19 tahun.

Seperti halnya Slank, Dewa 19 pun mencampuradukkan beragam musik jadi satu : pop, rock, bahkan jazz, sehingga melahirkan alternatif baru bagi khasanah musik Indonesia saat itu.

Modal Rekaman 10 Juta Rupiah dari Teman

Teman sekelas Wawan, Harun rupanya tertarik oleh konsep tersebut dan segera mengucurkan dana Rp. 10 juta untuk memodali teman-temannya rekaman. Tapi karena di Surabaya tidak ada studio yang memenuhi syarat, mereka terpaksa ke Jakarta. Padahal jumlah dana tadi jelas pas-pasan. Walhasil mereka harus ngirit habis-habisan. Segala hal dikerjakan sendiri termasuk mengangkat barangdan sebagainya. Tapi di sini musikalitas mereka teruji.

Album perdana, 19, rampung cuma 25 shift saja. Termasuk luar biasa buat ukuran musisi daerah yang baru saja menginjak rimba ibukota. Dengan master di tangan, Dhani gentayangan dari satu perusahaan rekaman satu ke perusahaan rekaman lain memakai bus kota, sementara Erwin, Wawan, Andra dan Ari menunggu hasilnya di Surabaya.

Sempat ditolak sana-sini, master itu akhirnya dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records, yang pernah sukses melejitkan KLA  Project.Di luar dugaan, angka penjualan album 19 meledak di pasaran, setelah melewati angka 300.000 kopi, pihak BASF mengganjar mereka dengan dua penghargaan sekaligus. Masing-masing untuk kategori Pendatang Baru Terbaik dan Album Terlaris 1993.

Dalam pembuatan album Format Masa Depan diwarnai oleh hengkangnya Wawan Juniarso karena tidak adanya kecocokan di antaranya.

Setelah itu dalam pembuatan album berikutnya Dewa menggunakan additional musician untuk drummernya yang antara lain : Ronald dan Rere. Setelah album Terbaik-Terbaik selesai, masuklah Wong Aksan menempati posisi drummer. Namun setelah menyelesaikan pembuatan album Pandawa Lima, pada tanggal 04 Juni 1998 Wong Aksan dikeluarkan dari Dewa 19, sebab pukulan dram Aksan dinilai mengarah kemusik jazz dan sebagai gantinya masuklah Bimo Sulaksono (mantan anggota Netral). []

Sumber: http://www.biografiku.com/2009/11/biografi-band-dewa-19.html


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.