Dian Siswarini kartini moderen
Foto: Dian Siswarini kartini moderen

Dian Siswarini: Jadi Kartini Moderen Itu 4 Kali Lebih Berat

Dian Siswarini kartini moderen
Foto: Dian Siswarini kartini moderen

INSPIRADATA. Dian Siswarini. Menjadi seorang pemimpin bukanlah tugas ringan, terlebih bagi perempuan. Sejumlah aspek membuat tugas tersebut jadi empat kali lebih berat terkhusus jika menjadi kartini di era modern.

Saat menjalankan tugasnya sebagai CEO XL Axiata. Dian Siswarini, tidak membayangkan harus melakukan pembuktian seperti banyak orang katakan. Di kepalanya hanya terpikir itu adalah amanah yang berat.

“Ini merupakan amanah terberat, tidak terpikir membuktikan sesuatu. Karena sekian juta pelanggan harus dilayani, di belakang saya ada ribuan karyawan dan keluargnya yang jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah karyawan. Adapula investor yang sudah menyimpan uangnya di perusahaan kami, selain itu stakeholder dan yang lain. Jadi itu amanah yang amat berat,” kata Dian di acara Kartini Masa Kini yang digelar di Jakarta. Seperti disitat dari Detik, Jum’at (21/4/2017).

Setelah menjalani peran menjadi CEO, barulah ia menyadari apa yang dikatakan banyak orang ada benarnya. Menjadi pemimpin perempuan harus melakukan pembuktian.

“Orang bilang bahwa perempuan harus dua kali pembuktian, ternyata itu bohong. Malah empat kali lebih berat dan susah,” ujar perempuan berkacamata itu.

Hal itu terjadi lantaran ekspektasi terhadap pemimpin perempuan jauh lebih besar. Tidak saja datang dari lingkungan kantor, tapi juga keluarga dan masyarakat.

Umumnya ekspektasi yang timbul pemimpin perempuan itu tidak saja lihai dalam bekerja. Tapi dituntut pula mampu berpenampilan menarik.

Selain itu mereka kerap dibanyangi pertanyaan kariernya memang bagus, tapi bagaimana keluarganya terpelihara atau terurus dengan baik atau tidak.

Tidak heran Dian kerap mendapat pertanyaan bagaimana membagi waktu antara karier dan keluarga. Padahal menurutnya, pertanyaan serupa harus pula ditanyakan ke pemimpin pria.

“Membagi waktu antara kerja dan keluarga bukan berlaku untuk kaum wanita saja. Pemimpin pria juga punya kewajiban yang sama terhadap keluarga,” tutur perempuan kelahiran Majalengka itu.

BACA JUGA: 

Kisah Susi Pudjiastuti, Kartini Lulusan SMP yang Berhasil Jadi Menteri

Dian berharap di masa depan tidak ada lagi pengotakan antara pemimpin pria atau wanita. Karena keduanya punya peran dan tanggung jawab yang sama

“Impian saya nantinya tidak ada istilah pemimpin perempuan atau pemimpin laki-laki, adanya pemimpin. Tidak ada julukan female CEO atau male CEO, adanya CEO. Karena sama saja (tugas dan tanggung jawabnya,” pungkas bos operator XL ini. []


Artikel Terkait :

About Nabila Maharani

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *