Unik, Informatif , Inspiratif

Dukung Palestina, Dua Siswa Yahudi Ini Berlutut saat Lagu Kebangsaan Israel Dimainkan

0 183

Dua siswa Yahudi di Afrika Selatan berlutut ketika lagu kebangsaan Israel dimainkan di sekolahnya. Aksi itu dilakukan sebagai protes dan bentuk dukungan bagi orang-orang Palestina yang dianiaya oleh Israel.

Dua siswa itu duduk di kelas sembilan Sekolah Menengah United Herzlia di Cape Town, Afrika Selatan. Mereka tak menerima penganiayaan yang dilakukan oleh Israel kepada bangsa Palestina yang terus berlanjut hingga melanggar hukum internasional. Demikian dikutip Middle East Monitor, Selasa (20/11/2018).

BACA JUGA: Yerusalem, Mengapa Kota Ini Penting bagi Islam, Kristen dan Yahudi

Direktur Sekolah, Geoff Cohen langsung melayangkan surat pada orang tua dua siswa itu. Pihak sekolah menilai aksi kedua siswa tersebut tidak pantas dan bertentangan dengan budaya sekolah.

Pada media Jerusalem Post, Cohen menyebut dua anak laki-laki yang berlutut itu melakukan protes pada Israel karena sikap Israel terhadap warga Palestina. Namun dia meyakinkan juga bahwa kedua anak itu tetap merupakan pendukung zionis.

Cohen juga mengaku sekolah tak pernah melarang siswa untuk berdiskusi atau berdebat soal apa pun. Namun, dia menyayangkan cara protes dua anak itu.

“Cara yang mereka pilih untuk protes itu sangat memalukan bagi kami dan bagi banyak orang,” katanya.

Dia mengaku dua siswa itu telah mendapat sanksi atas tindakan mereka. Cohen menyebut sanksi yang diberikan lebih kepada pembelajaran, daripada hukuman. Namun dia tak merinci apa bentuk sanksi itu.

Kaepernick

Sebelumnya, aksi berlutut yang mencerminkan bentuk protes juga pernah dilakukan bintang sepak bola Amerika, Colin Kaepernick tahun 2016. Dia berlutut saat lagu kebangsaan Amerika Serikat dinyanyikan sebelum pertandingan.

Kaepernick melakukannya dengan tujuan untuk memprotes kebrutalan polisi terhadap orang kulit hitam di Amerika Serikat.

BACA JUGA: Indonesia Tegaskan Tolak “UU Negara Yahudi”  Milik Israel

Aksi berlutut sebagai tindakan protes ini sudah banyak dilakukan oleh para pegiat HAM sejak era 1800-an lalu. []

SUMBER: MIDDLE EAST MONITOR | JERUSALEM POST

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline