Unik, Informatif , Inspiratif

Gampang Baper? Hindari dengan 4 Tips Ini

0

Baper (Bawa perasaan) sekarang sudah sering kita alami sehari-hari, sering kali sifat gampang baper membuat orang lain tidak nyaman. Oleh karena itu harus menempatkan sifat baper ini pada kondisi yang tepat.

Dikutip dari beberapa sumber, berikut tips untuk menimalisir baper:

1. Belajar memaafkan

Menjadi orang sensitif memang anugerah sekaligus ujian. Di satu sisi sifat ini sangat baik karena tingkat kepekaan emosionalnya tinggi, mudah berempati terhadap orang lain, namun di sisi lain juga bisa menjadi boomerang karena mudah terluka dan sakit hati.

2. Tandai orang-orang yang perkataannya nyelekit

Kenapa perlu ditandai? Karena orang-orang yang memang sering bicara nyelekit atau menyakitkan sebaiknya ucapannya tidak perlu dimasukkan dalam hati. Itu sama saja menyiram api dengan bensin, malah bikin kebakaran hebat.

Kalau setiap ucapan orang ini kita masukkan ke hati, dibawa perasaan, bisa-bisa kita terluka setiap harinya. Padahal yang bersangkutan tidak merasa menyakiti.

Biasanya sih ada teman atau tetangga sekitar yang ucapannya blak-blakkan, tidak disaring terlebih dahulu, pilihan katanya kasar, atau terlalu jujur yang bikin sakit hati, sebaiknya latih diri untuk menghadapi orang-orang seperti ini dengan sikap lebih santai.

Ingat bahwa kita tidak bisa mengubah orang lain menjadi seperti yang kita inginkan, kekuasaan dan wewenang kita hanya pada diri sendiri saja.

Jika kita sudah bisa tertawa-tawa atau santai saja menghadapi orang jenis ini, maka in syaa Allah hidup kita akan lebih nyaman, hati kita lebih sehat.

 

3. Sadar diri bahwa kita sensitif

Jangan menyangkal bahwa kita orang yang sensitif dan mudah baper. Akui sajalah kelebihan yang satu ini. Semakin disangkal, semakin sulit disembuhkan. Orang yang tidak tahu dia sakit, tidak akan berusaha menyembuhkan penyakitnya.

Meskipun baperan bukanlah sebuah penyakit, akan tetapi perumpamaan ini memperlihatkan bahwa dengan mengenali sifat kita yang mudah baper, kemudian mengakuinya dengan jujur, maka kita akan lebih mudah mengontrol perasaan baper tersebut, ketimbang kita terus menolak disebut baper.

4. Baper pada tempatnya

Melihat kondisi Rohingya, Suriah, dan Palestina sangat perlu baper. Dalam artian, kita peduli dan memasukkan persoalan genting tersebut dalam pikiran dan hati kita.

Persoalan akidah juga bukan hal main-main. Misalkan ada yang menjadikan agama Allah dan RasulNya sebagai olok-olokan, maka kita perlu sekali baper dan menindaklanjuti hal tersebut secara serius.

Akan tetapi jika hanya menghadapi kritikan terhadap penampilan kita, hal yang bersifat materi/finansial, atau fisik, sebaiknya tidak usah dibesar-besarkan apalagi sampai dibahas terus-terusan: []

 


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.