Ber-IQ Jongkok, Gadis Ini Berprestasi Tinggi

INSPIRADATA. Gardini Oktari,  Ia masih seorang remaja yang dipandang sebelah mata ketika akan memasuki jenjang pendidikan tinggi. Hal ini dikarenakan gadis tersebut adalah penyandang tunagrahita. Dua kali menjalani tes kecerdasan intelektual atau IQ, skor yang dicetak Gardini Oktari tak pernah tembus angka 70. Namun, ia tidak memiliki pribadi yang lemah.

Memang, kata Gardi, ia sempat merasa sedih dan minder karena kondisinya. Namun, setiap kepercayaan dirinya merosot, dia kembali menyemangati dirinya sendiri. “Aku selalu bilang kepada diriku sendiri dan anak berkebutuhan khusus lainnya, semua orang berhak mendapat kebahagian, termasuk kami. Karena kami ini kondisinya istimewa, nanti pun akan mendapat kebahagiaan yang istimewa dari Tuhan,” ujarnya.

Pembawaannya yang periang membuatnya tidak berbeda dengan remaja normal pada umumnya. Dia bahkan bisa dekat dengan dunia anak-anak, sehingga tidak heran sekarng, diusianya yang ke 26 tahun, Gardini bekerja sebagai pelatih di bagian tumbuh kembang anak di rumah sakit Permata Pamulang Tanggerang.

Rasa sayang, atensi, dan simpati menjadi modal utamanya dalam mengajar. Menurut Gardi, kasih dan penerimaan sangat dibutuhkan anak-anak asuhnya karena sebagian orang menganggap mereka aib. “Saat mengobrol, kami sampai sering menangis bersama,” katanya. “Semacam kami ini kayak velg mobil yang rusak, udah enggak bisa diapa-apakan lagi.”

Ber-IQ jongkok tapi tetap berprestasi bukan hal yang didapat Gardi dengan gampang. Sejak SMP, ia menjalani terapi menari dan menulis kepada dokter tumbuh kembang anak Tri Gunadi. Dia beruntung karena keluarganya sangat mendukung terapinya. Sang ayah bahkan sampai sekolah lagi di Tokyo, Jepang, demi mendapat lebih banyak lagi referensi mengenai kondisi Gardi. Hingga akhirnya Gardi dapat menyelesaikan pendidikannya di jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Al Azhar Indonesia.

Ketidaknyamanan Gardi saat awal memasuki gerbang perkuliahan tentunya sangat besar karena ia merasa berbeda dengan teman-temanya yang lain. Namun, Setelah menjalani masa perkuliahan lama kelamaan Gardi merasa dapat bersosialisasi dengan baik karena beberapa temanya yang mengatahui kekuranganya ternyata dapat menerima kondisinya. Gardi sempat mengatakan “Bagi Gardi Universitas Al Azhar Indonesia berperan sangat besar dalam membentuk karakter Gardi di masyarakat, dan ini merupakan salah satu sarana terapi bagi Gardi karena efeknya Gardi dapat berpandangan luas terhadap karakter dan kepribadian setiap orang yang berbeda-beda”.
Puluhan prestasi pun sudah dia bukukan, di antaranya memenangi lomba menari. Dengan segenap kerja kerasnya Gardi berhasil lulus pada tahun 2013 dengan predikat sangat memuaskan. Setelah lulus kesibukanya semakin bertambah dengan banyak sekali diundang di berbagai seminar. Sekarang Ia juga tergabung dalam komunitas orang tua yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus.

Gardi telah membuktikan dengan keterbatasan tersebut ia bisa bertahan di lingkungan sosialnya dan berhasil memotivasi banyak orang. Saat ini ia juga aktif sebagai pembicara pada seminar-seminar berskala nasional dan juga sebagai narasumber dari berbagai media nasional seperti Tempo, Majalah Nakita, dan Radio DFM 103.4 FM. Gardi yang awalnya sering diolok-olok sebagai ‘anak bego’ kini justru berhasil mencapai prestasi yang tinggi dan mampu membuktikan bahwa seorang anak berkebutuhan khusus juga layak dan mampu berkompetisi dengan anak-anak lainya.[]


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *