Gatot Nurmantyo Tunjukan Bakti Sang Jendral untuk Sang Ibu

gatot-nurmantyo INSPIRADATA. Nama Jendral Gatot Nurmantyo belakangan ini melejit di media nasional. Sepak terjangnya yang kini menjadi sorotan publik menghantarkannya menjadi sosok idola baru yang lahir dari kalangan militer tanah air.

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo lahir di Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960. Ia menjabat sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia sejak 8 Juli 2015. Perjalanan karier kemiliterannya lumayan panjang. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30, juga pernah menjabat sebagai Pangkostrad dan terakhir sebagai panglima TNI.

Gatot Nurmantyo merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1982 yang berpengalaman di kecabangan infanteri baret hijau Kostrad. Selain itu, Gatot juga adalah Ketua Umum PB FORKI periode 2014-2018.

Gatot dibesarkan dari keluarga yang berlatar militer. Ayahnya  bernama Suwantyo, seorang pejuang kemerdekaan yang pernah menjadi Tentara Pelajar. Di masa perang kemerdekaan ayahnya bertugas di bawah komando Jenderal Gatot Subroto. Jendral besar tersebut lah yang menginspirasi ayahnya memberikan nama Gatot padanya. Sedangkan ibunya, anak seorang Kepala Pertamina di Cilacap, memiliki tiga orang kakak kandung yang mengabdi sebagai prajurit TNI AD, TNI-AL dan TNI-AU.

Sebenarnya Gatot bercita-cita menjadi arsitek. Makanya ia mendaftar ke Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi karena menimbang pesan ibunya, “Ayahmu hanya seorang pensiunan. Kalau  kamu masuk UGM, maka adik-adikmu bisa tidak sekolah, ” Gatot pun mengubah haluan. Diam-diam dia berangkat ke Semarang, mendaftar Akabri melalui Kodam Diponegoro. Sekembalinya dari Semarang, ia memberitahu ibunya bahwa ia sudah mendaftar ke Akabri. Ibunya langsung mengizinkan dengan pesan, “Jika kamu menjadi tentara, kamu harus menjadi anggota RPKAD,” Menurut Gatot, ibunya sangat berharap anaknya menjadi anggota RPKAD karena ia mengidolakan anggota RPKAD yang bermarkas dekat dengan rumahnya di Cilacap.

Dua kali Gatot berusaha masuk menjadi anggota Kopassus (nama baru RPKAD), namun setelah berpangkat Kapten pun ia tetap gagal. Hingga tertutuplah kesempatan menjadi anggota kopassus itu. Tapi, Gatot tetap tidak menyerah. Ia terus berdoa kepada Allah SWT agar suatu hari bisa diterima menjadi prajurit Kopassus.

Kesempatan ajaib itu pun datang di usianya yang ke-55, tepatnya setelah ia menjabat KSAD (25 Juli 2014–15 Juli 2015). Tak lama setelah pelantikan, Gatot memanggil Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo dan menyampaikan maksudnya ingin mendaftar pendidikan Kopassus. Agus Sutomo menyampaikan, “Tidak usah ikut pendidikan Pak, nanti Bapak saya kasih brevet kehormatan saja”, Tapi Gatot menolak. Ia bersikukuh mau mendapat baret merah melalui jalur normal. Maka masuklah Gatot menjadi siswa Kopassus.

Ia mengikuti semua prosedur normal, mulai dari pendaftaran, ujian, hingga penyematan brevet komando dan baret di pantai Cilacap. Untuk itu, ia harus melalui ujian yang keras, antara lain senam jam 2 pagi, lalu direndam di kolam suci Kopassus di Batujajar, longmarch, hingga berenang militer selama lebih 2 jam dari pantai Cilacap ke pulau Nusakambangan. Bahkan Gatot juga mengikuti pendidikan Sandi Yudha yang salah satu ujiannya harus menyusup masuk ke suatu tempat yang terkunci dan dikawal ketat oleh prajurit Kopassus.  Gatot akhirnya diyatakan lulus semua tahapan dan resmi diangkat menjadi keluarga besar Korps Baret Merah di pantai Permisan Cilacap, Jawa Tengah, pada 2 September 2014.

Setelah resmi menjadi prajurit Kopassus, Gatot naik helikopter dari Cilacap ke Kartosuro (Markas Grup 2 Kopassus). Masih berbaret merah, pakai loreng, darah mengalir, masih pakai hitam-hitam samaran dan masih bau lumpur, ia langsung menuju makam kedua orang tuanya di Solo. Di depan makam kedua orang tuanya itu ia memberi hormat dan menyampaikan, ”Ibu saya sudah menunaikan tugas.”

Itulah bakti yang ditunjukkan sang jendral untuk memenuhi keinginan dalam pesan-pesan yang disampaikan ibunya meskipun kini ia telah tiada.[]


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *