Unik, Informatif , Inspiratif

Hak Tetangga menurut Imam Al-Ghazali

0

Manusia itu fitrahnya mahluk sosial. Bukan sok’ sial. Dan sebagai mahluk sosial Allah telah menyiapkan keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Tapi keberuntungan yang bisa diraih sebagai mahluk sosial itu harus diusahakan.

Sebagai mahluk sosial, manusia tak terlepas saling bergantung satu sama lain. Secara sosial, manusia dengan kemampuan inderanya untuk mencerna, manusia dapat membangun atau menghancurkan.

BACA JUGA: Muliakan Tetangga, Sebab Ini Kedudukannya dalam Diri Rasul

Lingkungan sosial terdekat manusia adalah tetangga. Karena pentingnya kedudukan tetangga, beberapa hadis dan alquran menyinggungnya sebagai tuntunan hidup bersosial secara mulia.

Imam Al-Ghazali menyebutkan hak tetangga dalam keterangan berikut ini.

Menurut Imam Al Ghazali, hak tetangga bukan hanya tidak mengganggu tetangga saja. Tapi juga hendaklah menghilangkan gangguan dari mereka. Karena tetangga juga demikian berusaha untuk tidak mengganggu tetangga yang lain.

Jadi ini bukan sekedar menunaikan hak. Tidak cukup pula menghilangkan gangguan, namun juga berusaha bersikap lemah lembut dengan tetangga, serta menebar kebaikan dan melakukan perbuatan ma’ruf. Contohnya:

BACA JUGA: Kiriman Tetangga Pengikat Rasa

1. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah.

2. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan.

3. Berusaha bersikap baik dan lemah lembut pada anak tetangga.

4. Berusaha mengajarkan perkara agama atau dunia yang tetangga tidak ketahui

5. Berserikat dengan mereka dalam kebahagiaan dan saat mendapatkan nikmat.

6. Meminta maaf jika berbuat salah.

7. Berusaha menundukkan pandangan untuk tidak memandangi istri tetangga yang bukan mahram.

8. Menjaga rumah tetangga jika ia pergi. Memulai mengucapkan salam pada tetangga.

9. Menjenguk tetangga yang sakit.

BACA JUGA: Kiriman Tetangga Pengikat Rasa

Selain sepuluh hal tadi, ada juga hak-hak sesama muslim secara umum yang ditunaikan.

Disebutkan dalam Al-Ihya’, 2: 213, dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 219 saat membahas perintah menunaikan hak pada sesama tetangga.[]

SUMBER: RUMAYSHO


Artikel Terkait :

Comments
Loading...

Kamu Sedang Offline