Unik, Informatif , Inspiratif

Harta Istri Bukan Harta Suami, Harta Suami Milik Istri Juga, Setuju?

0

Pernikahan tentunya tak hanya hubungan kasih sayang antara dua insan yang menjadi satu dalam ikatan yang halal. Lebih dari itu, dalam pernikahan di dalamnya membentuk hubungan keluarga yang bahagia sesuai dengan kaidah Islam.

Islam sebagai agama yang sempurna juga mengatur hubungan suami istri dalam pernikahan. Dalam aturan suami istri tersebut didalamnya termasuk rejeki yang didapat antar suami istri dalam pernikahan.

Kewajiban seorang suami dalam pernikahan salah satunya adalah mencari rejeki untuk menafkahi istri dan keluarga. Seperti yang dijelaskan dalam surah al Baqarah berikut ini:

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya,” (QS. Al Baqarah : 233).

Tahukah Anda, jika harta isrti hanyalah miliknya pribadi bukan milik suami. Sebaliknya, harta suami adalah harta bersama dengan istri. Hal tersebut tercantum dalam al Quran surah An Nisaa ayat 29 berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil,” (QS. An Nisaa : 29).

Syeikh Muhammad Shaleh al Munjid mengatakan bahwa jika seorang istri bekerja karena adanya persyaratan disaat akad nikahnya maka tidak diperbolehkan bagi suaminya untuk mengambil hasil gajinya. Namun apabila saat akad tak ada persyaratan hendaklah istri turut berkontribusi dalam nafkah keluarga. Hal tersebut lantaran hak waktu untuk suami dan keluarga digunakan untuk bekerja, sehingga harta istri bisa untuk bersama dengan keluarga.

Dalam riwayat lainnya oleh Abu Daud dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh seorang istri memberikan suatu pemberian kecuali dengan seizin suaminya.”

Aisyah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seorang wanita bersedekah dari makanan yang ada di rumah (suami) nya bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala atas apa yang diinfaqkan dan bagi suaminya pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikitpun pahala masing-masing dari mereka,” (HR. Bukhori).

Berdasarkan hal tersebut idealnya seorang suami dan istri saling bahu membahu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bila suami memberikan nafkah, maka sang istri yang mengatur keuangan dan mendidik anak menjadi generasi yang rabbani. []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.