Unik, Informatif , Inspiratif

Hatta, Seorang Anak Ulama Terkemuka Minangkabau

0 217

Mohammad Hatta merupakan salah satu pahlawan Indonesia. Ia dilahirkan pada 12 Agustus 1902 di Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi, Sumatera Barat) dengan nama Muhammad Athar. Hatta adalah putra dari pasangan Mohammad Djamil asal Batu Hampar, Akabiluru, Lima Puluh Kota dan Siti Saleha asal Kurai, Bukittinggi. Ayahnya merupakan anggota keluarga ulama terkemuka di Minangkabau yang meninggal saat Hatta berusia delapan bulan. Sedangkan ibunya datang dari keluarga pedagang yang terpandang.

Dengan latar belakang keluarga seperti itu, tak heran Hatta berkembang dalam lingkungan terpelajar, berwawasan politik, sekaligus memiliki pengetahuan dunia dagang. Lingkungan telah mendidiknya dan menjadikannya seorang konseptor utama bangsa ini.

Maka hari ini kita mengenal Mohamad Hatta dengan sebutan mulia sebagai Pahlawan proklamator, pahlawan kemerdekaan, Bapak Koperasi Indonesia dan pahlawan ekonomi Indonesia.

BACA JUGA: Ketika Mohammad Hatta Pergi Haji dengan Biaya Sendiri

Hattalah yang mencetuskan konsep ekonomi dasar dan tertuang dalam Undang Undang Dasar 1945 di beberapa pasal. Khususnya, Pasal 33 tentang perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial. Ayat 1 pasal 33, berbunyi: “Bahwa perekonomian disusun sebagai usaha berdasarkan asas kekeluargaan.”

Sebagai Bapak Koperasi Indonesia, Hatta membuat konsep ayat 2, pasal 33. Pada konsep tersebut dia menekankan bahwa cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” bunyi ayat 2, pasal 33.

Sebagai pengusung ekonomi kerakyatan, tentu saja Hatta menolak konsep kapitalisme, yang berbeda dengan konsep ekonomi kerakyatannya. Dasar pemikiran ekonomi kerakyatan ini, kini mulai dihidupkan kembali oleh banyak kalangan.

Pada tahun 1970 , Bung Hatta dalam pidatonya sering mengingatkan isi Pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Namun kenyataannya saat ini, belum sepenuhnya terlaksana.

BACA JUGA: Hatta, Edelweiss dari Indonesia

“Apabila ada sekiranja peraturan jang tepat untuk menampung dan mendjuruskan penerimaan uang zakat jang wadjib bagi penduduk Indonesia jang beragama Islam membajarnja, maka sebagian besar dari tuntutan pasal 34 UUD 1945 itu sudah dapat terlaksana,” ujar Bung Hatta dalam naskah pidatonya di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, 2 September 1970.

Hatta berpendapat, bahwa langkah pertama untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang sesuai dalam tujuan UUD 1945 adalah dengan cara melepaskan rakyat dari kesengsaraan hidup dan memberikan jaminan hidup bagi tiap orang. Soal ekonomi, yang pertama bagi sosialisme adalah menentukan dan memperoleh barang barang keperluan hidup yang terpenting bagi rakyat Indonesia, berupa makanan, pakaian, perumahan, kesehatan dan pendidikan anak-anak. []

SUMBER : VIVA

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline