Foto: Viva

Ilham Habibie Bicara Ancaman Hoax dan Cara Atasinya

Foto: Viva

Ilham Habibie, Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas) bicara tentang ancaman hoax. Ia mengungkapkan bahwa penyebaran informasi hoax atau berita bohong menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia.

Regulasi terkait penghentian penyebaran informasi hoax dinilai tidak mumpuni. Menurut Habibie, hal ini mengakibatkan kasus penyebaran hoax tidak akan selesai dalam beberapa tahun ke depan.

“Ya memang bisa dikatakan bahwa hoax ini menjadi ancaman serius bangsa. Ini harus benar-benar diperhatikan pemerintah,” ujar Habibie ketika berada di Hotel Shangri-La, Jakarta, pada Rabu (22/3/2017).

Terdapat beberapa catatan mengenai penyebaran berita bohong di kalangan masyarakat.

Pertama, hoax dapat menggiring opini masyarakat karenanya banyak diantaranya yang terpengaruh akan hal itu. Ditambah, jarang sekali orang yang melakukan cek dan ricek informasi tersebut. Apakah berita tersebut dibuat media arus utama, atau karangan suatu oknum.

Kedua, kemudahan dalam membuat situs tertentu yang digunakan sebagai media penyebar berita hoax. Hal itu sulit dihentikan dengan segera oleh pemerintah.

“Meskipun sudah diblokir, orang akan mudah untuk kembali membuat suatu situs,” lanjut Ilham seperti yang dilansir tribunnews.com.

Ketiga, ancaman paling nyata adalah terdapat pemilihan umum (pemilu) atau pilkada di suatu daerah.

Berita hoax tersebut dapat dijadikan sebagai pemecah belah masyarakat maupun cara meraih kemenangan.

“Bukan tidak mungkin ini dilakukan dan perpecahan di masyarakat bisa timbul begitu saja,” ujarnya.

Ilham menjelaskan bahwa pemerintah harus mempunyai strategi yang tepat agar ancaman hoax tersebut dapat dicegah atau diminimalisir. “Ini tidak bisa dihentikan, karena ini juga jadi permasalahan hampir di setiap negara,” tandasnya.

Ia melanjutkan, pemerintah harus bisa mengupayakan penanganan hoax itu dengan beberapa cara, contohnya seperti Jerman. Mereka dapat bekerjasama dengan Facebook untuk mengurangi penyebaran hoax.

“Mereka meminta kepada Facebook untuk menarik apapun berita mengenai Nazi karena mereka mempunyai masa kelam mengenai hal itu,” kata Ilham.

Atau dengan cara yang dilakukan perusahaan di Amerika yang memberikan “Cap Hoax” kepada berita tertentu.

“Jadi ada beberapa perusahaan yang kemudian memberikan “tag” terhadap pemberitaan. Nantinya, pengguna diberikan kebebasan untuk percaya atau tidak,” pungkas Ilham. []


Artikel Terkait :

About Saefullah DS

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *