Inspirasi dan Data

Indahnya Cinta Para Sufistik

0

“Sesungguhnya jika hamba merendahkan diri karena Allah, niscaya Dia mengangkat hikmah-Nya.” – Umar bin Khattab.

Sejenak kita menyelami dunianya para pecinta sejati. Mereka tak pernah memiliki kekhawatiran sedikitpun akan jatuh karena selalu merasa dirinya berada dalam perlindungan dan pengawasan Allah.

Hati mereka pun bersih jauh dari prasangka, jiwa mereka senantiasa sejuk karena dalam setiap denyutan nadinya mereka selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang mengagungkan Allah.

Dalam kesunyian pun mereka tak pernah merasa sendiri, karena selalu beranggapan Allah menemaninya. Dalam keramaian pun mereka mengasingkan diri karena ingin menjumpai Allah.

Merekalah para pecinta sejati. Energi cinta yang mereka punya sangatlah besar sehingga kehidupan mereka hanya akan ditujukan pada Allah, tak ada yang lain. Bagi para pecinta sejati, bukanlah wujud yang diidam-idamkan, tetapi kehadiran Allah dalam hatinya yang selalu dinanti-nantikan.

Bagi para pecinta sejati ini, bukanlah rabaan fisik yang diutamakan, namun yang terpenting adalah batinnya mampu menatap tajam wajah Allah. Di manapun mereka berada, selalu terpahat wajah Allah yang selalu tersenyum di hadapannya. Bisa dibilang pancaran energi cinta mereka membuat dirinya tergila-gila dengan cinta.

Rabi’ah Al-Adawiyah, salah satu tokoh sufi perempuan yang memiliki rasa cintanya kepada Allah sangat mendalam, sehingga mampu menghapus harap kepada surga dan takut kepada neraka.

Artinya, kecintaan yang Rabi’ah miliki ini bukan karena mengharapkan masuk surgaatau dijauhkan dari neraka, namun lebih dari itu. Kecintaannya tersebut semata-mata hanya mengharapkan ridha Allah.

Dalam sebuah untaian munajatnya beliau berkata. “Ya Rabb, jikalau aku beribadah kepada-Mu hanya berharap akan Engkau masukkan ke surga-Mu, maka masukkanlah ke dalam neraka-Mu.”

Tak ada sedikitpun harapan mendapatkan balasan dari cintanya, karena semua yang ia lakukan berdasarkan keikhlasan yang tinggi. Dirinya hanya ingin mengabdi pada Allah. Sehingga ia membuang jauh-jauh kepentingan duniawi, karena baginya kenikmatan yang hakiki adalah di mana saat-saat hati dan pikirannya selalu rindu terhadap Allah. []

Sumber : the Power of Good Love, karya Ishaq Ahmad.

loading...
loading...
Comments
Loading...