Ini Alasan Logis di Balik Larangan Shalat dan Puasa bagi Wanita Haid


muslimah-duduk-pantai-lautINSPIRADATA.
Wanita adalah mahluk yang istimewa. Selain dianugerahi kelembutan dari sisi  psikologis, wanita juga dianugerahi kondisi biologis khusus. Setiap bulannya ia mendapatkan kunjungan tamu ‘istimewa’. Jika tamu ini datang, maka wanita akan terhalang dari aktivitas ibadah tertentu seperti shalat dan puasa.

Tamu bulanan itu kita kenal dengan nama menstruasi atau haid. Kondisi dimana rahim menggugurkan sel telur berupa cairan darah melalui vagina. Tapi, apa hubungannya kondisi tersebut dengan larangan shalat dan puasa?

Berikut ini penjelasan logisnya:

Dalam sholat terdapat gerakan sujud yang memungkinkan lancarnya peredaran darah ke daerah rahim. Jika dalam kondisi hamil, posisi sujud dapat membantu darah mengalir lebih lancar ke rahimnya yang memang membutuhkan darah melimpah agar janin dalam rahim tersebut mendapatkan gizi dan bersih dari polusi. Sebaliknya jika dalam kondisi haid, aliran darah bersih ke rahim itu akan merugikan karena ia dapat terbuang keluar bersama darah haid.

Mengalirnya darah secara umum akan meningkatkan kemungkinan menularnya penyakit. Namun Allah menjaga wanita haid dari penularan penyakit dengan mengkonsentrasikan sel darah putih di rahim selama masa haid. Jadi, Jika wanita haid menunaikan shalat, zat imunitas (kekebalan) di tubuhnya diperkirakan akan hancur. Sebab sel darah putih yang  berperan sebagai imun itu akan hilang terbawa keluar, mengalir  bersama darah haid.

Selain itu, Larangan shaum untuk wanita haid ternyata selaras dengan anjuran medis.  Wanita haid butuh banyak beristirahat dan mengkonsumsi makanan bergizi. Maka, secara medis ia tidak dianjurkan untuk berpuasa ataupun shalat. Ini demi menjaga kandungan darah dan logam, seperti magnesium dan zat besi dalam tubuh, agar tidak terbuang percuma bersama darah haid, karena zat-zat tersebut sangat dibutuhan tubuh khususnya ketika haid.[]


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

Terlanjur Haid, Shalat Belum Dikerjakan, Apakah Harus Mengganti?

Sebaliknya dalam mazhab Asy-Syafi'iyah, kewajiban shalatnya tidak gugur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *