Unik, Informatif , Inspiratif

Ini Beberapa Kejanggalan Meninggalnya Bayi Debora

0

Pimpinan Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto, mendapat keterangan dari RS Mitra Keluarga Kalideres, terkait kematian Debora pada minggu lalu(03-09-2017). Namun keterangan tersebut justru berbeda dengan keterangan yang diberikan pihak keluarga yaitu kedua orang tua kandung bayi Debora.

Koesmedi, berpendapat  bahwa RS Mitra Keluarga Kalideres, memberikan perlakuan berbeda kepada bayi Debora. Sebab, Debora bukan satu-satunya pasien pemegang kartu BPJS Kesehatan yang pernah berobat di rumah sakit tersebut.

RS Mitra Keluarga Kalideres, sebelumnya pernah menangani kasus gawat darurat pasien BPJS,  yang serupa seperti bayi Debora. Namun perlakuan yang di dapat oleh Bayi Debora berbeda dengan dengan pasien-pasien sebelumnya.

“Walaupun RS Mitra Keluarga Kalideres, belum bekerja sama dengan BPJS, tapi dia sudah beberapa kali menagih ke BPJS dengan cara seperti itu. Kenapa dengan pasien ini (bayi Debora) tidak diperlakukan seperti itu?” ujar Koesmedi, di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu lalu (13/9/2017).

Bagi pengobatan pasien BPJS, RS Mitra Keluarga Kalideres, menagih biaya pengobatan kepada pihak BPJS kesehatan. Hal ini menunjukan bahwa, biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan meskipun RS Mitra Keluarga Kalideres, belum bermitra dengan pihak BPJS.

Bahkan sebelumnya, ada pasien BPJS mendapatkan pengobatan rawat inap beberapa hari, di RS Mitra Keluarga Kalideres. Dengan pengalaman tersebut pihak RS Mitra Keluarga Kalideres, seharusnya langsung memindahkan bayi Debora ke ruang PICU (pediatric intensive care unit) tanpa mencari rumah sakit rujukan dan meminta bayaran dari orang tuanya.

“BPJS pernah menerima pasien yang ditagihkan sampai dirawat 3-4 hari, itu pernah,” tambah Koesmedi.

Pihak RS Mitra Keluarga Kalideres, dalam keterangannya kepada Dinas Kesehatan DKI Jakarta , beberapa waktu lalu seakan tidak tahu tentang hal itu.

“Kemarin pihak  RS menyatakan, dia tidak tahu kalau kegawat daruratan itu sampai proses stabil,” kata Koesmedi.

Koemedi, juga menemukan satu kejanggalan mengenai kematian bayi Debora bahwa, pihak Rumah Sakit sebeumnya tidak mengetahui ternyata Debora adalah pasien BPJS, dan meminta kedua orang tua Bayi Debora membayar biaya perawatan ruah sakit sebanyak 50persen sesuai prosedur  Hal  tersebut baru diketahui setelah Bayi Deboa akan di rujuk ke Rumah Sakit lain.

Sementara itu, orang tua Debora memberikan pernyataan yang berbeda dengan pihak rumah sakit kepada Koesmedi, bahwa pihak rumah sakit sebelumnya sudah mengetahui sejak awal bahwa, Debora peserta BPJS.

“Ada beberapa perbedaan, seperti dia (RS) kan sudah tahu bahwa BPJS dipunyai keluarga sejak awal. Tapi tadinya rumah sakit bilang dia enggak tahu. Baru ketika mencari kamar, dia baru tahu,” ujar Koesmedi.

Kesalahan administrasi RS Mitra Keluarga Kalideres, terjadi setelah mereka tahu Debora merupakan pasien BPJS.

Kesalahan yang dimaksud Koesmedi, terjadi ketika bayi Debora meninggal dunia. Sebelumnya orangtua Debora membayar biaya pengobatan selama Debora ditangani di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebesar Rp 6 juta. Padahal, ketika itu rumah sakit sudah tahu Debora merupakan pasien BPJS.

Koesmedi bertanya, kenapa  pihak rumah sakit tetap menerima uang Rp 6 juta tersebut. Sedangkan penanganan gawat darurat pasien BPJS ditanggung sepenuhnya oleh pihak BPJS. Sedangkan, RS Mitra Keluarga Kalideres, sudah tahu tentang hal itu dari praktik yang mereka lakukan sebelumnya.

“Okelah kalau dia (RS) enggak tahu (Debora punya BPJS) misalnya, pulangnya dia tahu dong kalau itu BPJS. Kok masih ditarik lagi? Jadi memang sudah kami putuskan, memang ada penyimpangan administratif yang terjadi,” ujar Koesmedi.

Dari kejanggalan yang ditemukan Koesmedi, terlihat bahwa Debora mendapat perlakuan yang berbeda dengan pasien BPJS oleh RS Mitra Keluarga Kalideres, pertanyaannya kenapa Debora dilakukan berbeda oleh pihakrumah sakit?

Penjelasan RS Mitra Keluarga

Manajemen RS Mitra Keluarga, menyampaikan, awalnya Debora diterima di IGD dalam keadaan tidak sadar dan tubuh membiru. Menurut pihak rumah sakit, Debora memiliki riwayat lahir prematur dan penyakit jantung bawaan (PDA). Debora juga terlihat tidak mendapat gizi yang baik.

Pihak rumah sakit menyatakan telah melakukan prosedur pertolongan pertama berupa penyedotan lendir, pemasangan selang ke lambung dan intubasi (pasang selang napas), lalu dilakukan bagging atau pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang napas, infus, obat suntikan, dan diberikan pengencer dahak (nebulizer).

Pemeriksaan laboratorium dan radiologi pun dilakukan. Rumah sakit menyarankan Debora dirawat di instalasi PICU. Ketika itu pihak rumah sakit tahu bahwa keluarga punya kendala biaya.

Rumah sakit juga menawarkan solusi, dengan merujuk Debora dirawat di rumah sakit yang memiliki instalasi PICU dan melayani pasien BPJS.

Pihak rumah sakit membantah bahwa mereka yang telah menyebabkan Debora meninggal akibat tak melakukan pelayanan sesuai prosedur. []

 


Artikel Terkait :
Comments
Loading...

Kamu Sedang Offline