, Ini Hukum Berpacaran dalam Islam
Unik, Informatif , Inspiratif

Ini Hukum Berpacaran dalam Islam

0

Sudah tak asing lagi jika kalangan remaja hingga dewasa sudah memiliki pasangan. Mereka menjalin hubungan asmara yang di namakan dengan pacaran. Bahkan, kalangan remaja dan dewasa ini kerap muncul berpasangan di tempat-tempat yang cukup ramai. Seperti contohnya, di cafe, pinggir jalan, alun-alun kota, hingga tempat ramai. Lebih parahnya lagi, mereka tidak menghiraukan situasi ramai tersebut.

Rasulullah melarang keras hal ini. Maupun berpacaran di tempat yang umum bahkan di tempat yang jauh sepi. Beliau bersabda ;
“Tidak boleh laki-laki dan wanita berduaan kecuali disertai oleh mubrimnya, dan seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali ditemani oleh mubrimnya.” (HR. Muslim)

Jangankan di usia-usia remaja hingga dewasa. Hal ini kerap muncul pula di kalangan anak-anak belia yang bahkan masih duduk dibangku sekolah dasar berseragam merah putih. Sungguh miris sekali. Sebenarnya, kata pacaran itu adalah budaya orang asing yang masuk ke indonesia melalui era globalisasi. Karena filter yang kurang, dan tidak sedikit pula yang terjerumus dalam budaya tersebut. padahal, hal ini secara tidak langsung mendekati kepada zina yang merupakan dosa besar.

Hukum pacaran dalam islam

Dalam Islam tidak pernah dijelaskan adanya berhubungan yang namanya pacaran. Karena pacaran dapat menimbulkan berbagai fitnah dan dosa. Dalam Islam haram yang namanya pacaran. Oleh karena itu, Islam mengatur hubungan antara lawan jenis dalam dua hal, yakni;

1. Hubungan Mahram
Hubungan mahram adalah sebuah hubungan yang dimana tidak dilarang oleh Islam. Tetapi hubungan antara lawan jenis ini tidak lain hanya sebatas ayah dengan anak perempuannya, kakak dengan anak perempuannya atau sebalik. Hal ini disebut hubungan mahram berarti sah-sah saja untuk berduaan (dalam artian baik) dengan lawan jenis. Sebab, Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 23 disebutkan bahwa mahram (yang tidak boleh dinikahi) dari pada seorang laki-laki adalah ibu, nenek, saudara perempuan (kandung maupun se-ayah), bibi (dari ibu maupun ayah), keponakan (dari saudara kandung maupun sebapak), anak perempuan (anak kandung maupun tiri), ibu susu, saudara sepersusuan, ibu mertua, dan menanti perempuan. Dalam hubungan mahram juga wanita diperboleh kan tidak memakai hijab. Tetapi, bukan untuk dipertontonkan.

2. Hubungan Non-mahram
Selain daripada mahram, artinya laki-laki diperbolehkan untuk menikahi si wanita tersebut. Namun, terdapat larangan jika berdua-duaan, contohnya seperti melihat langsung, bersentuhan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Untuk perempuan, harus menganakan pakaian yang bersifat menutup seluruh auratnya jika berada di sekitar laki-laki yang bukan mahramnya tersebut.

Kesimpulannya haram hukumnya berpacaran dalam Islam, apa lagi berpacaran sering mendekati yang namanya zina yang sangat di benci oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dalam hadist dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, mengatakan; “Rasulullah SAW berkata kepada Ali: Hai Ali, janganlah ikuti pandangan pertama dengan kedua. Karena pandangan pertama untukmu (dimaafkan) dan pandangan kedua tidak untukmu (tidak dimaafkan).” (HR. Abu Daud). []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.