Foto: Bola

Ini Lima Hal tentang Final Piala AFF 2016

Foto: Bola

INSPIRADATA. Malam ini pukul 19:00 WIB, timnas sepakbola Indonesia akan berhadapan dengan tuan rumah Thailand pada Leg ke-2 Final Piala AFF 2016.

Di leg pertama yang berlangsung di stadion Pakansari, Bogor, Rabu (14/12/2016) Indonesia berhasil menang tipis atas Thailand dengan skor 2-1. Kemenangan tersebut membuka asa bagi tim Garuda untuk merengkuh trofi bergengsi pertama di kancah Asean itu.

Berikut lima hal tentang final piala AFF 2016, sebagaimana disitat dari BBC.

1. Sejarah pertemuan Indonesia-Thailand

Di Piala Tiger 1998, yang digelar di Vietnam, Indonesia untuk kali pertama timnas Indonesia bertemu Thailand di babak penyisihan grup.

Seperti tercatat dalam sejarah, laga ini diwarnai ‘sepak bola gajah’ karena kedua tim bermain sandiwara alias tidak bermain serius. Kedua tim tidak ingin memenangi laga demi menghindari bertemu Vietnam di laga berikutnya.

Menjelang akhir, skor masih 2-2 dan tiba-tiba pemain belakang Indonesia, Mursyid Effendi, sengaja mencetak gol ke gawang sendiri. Pertandingan ‘memalukan’ ini membuat kedua tim didenda dan Mursyid dihukum dilarang bermain sepak bola internasional seumur hidup.

Dua tahun kemudian, di Piala AFF 2000, Indonesia bertemu Thailand di partai final. Ketika itu Thailand lebih dijagokan, dan dalam pertandingan yang digelar di Thailand (saat itu finalnya hanya sekali laga), Indonesia kalah telak 1-4. Gol hiburan Indonesia dicetak Uston Nawawi.

Digelar di Stadion Gelora Bung Karno, final Piala AFF 2002, tim Merah-Putih berhasil melaju ke final dan bertemu juara bertahan Thailand. Bermain seri 2-2 hingga perpanjangan waktu, Indonesia harus mengakui kemenangan Thailand 2-4 dalam adu penalti.

Kedua negara bertemu lagi di Piala AFF 2008, tetapi kali ini di semi final. Dalam dua laga home and away, Indonesia ditundukkan Thailand 0-1 dan 1-2.

Dan, akhirnya, Piala AFF 2010. Ini adalah titik balik dalam sejarah pertemuan Indonesia-Thailand. Digelar di stadion Bung Karno, tuan rumah menaklukkan Thailand 2-1.

2. Empat kali ke final, tapi selalu gagal juara

Setelah dikalahkan Thailand di final Piala AFF 2000 dan 2002, dua tahun kemudian di final Piala AFF 2004, yang digelar secara home and away, Indonesia harus mengakui kedigdayaan Singapura dengan agregat 2-5.

Di Gelora Bung Karno, Indonesia kalah 1-3 (dengan satu-satunya gol dicetak oleh Mahyadi Panggabean), sementara dalam laga leg kedua di Singapura, lagi-lagi Indonesia kalah 1-2.

Gagal masuk final di AFF 2007 dan 2008, timnas Indonesia menghadapi Malaysia di partai final AFF 2010.

Setelah melaju dari babak penyisihan grup yang digelar di Indonesia dan Vietnam, Indonesia menundukkan Filipina di semi final dengan agregat 2-0. Di babak semi final lainnya, Malaysia menggulung Vietnam dengan agregat 2-0.

Laga final pun menghadapkan Indonesia-Malaysia. Dalam final leg pertama di Stadion Bukit Jalil, yang diwarnai insiden ‘sinar laser’, Indonesia ditekuk 0-3 oleh tuan rumah Malaysia.

Keunggulan 2-1 Indonesia atas tim tamu di Gelora Bung Karno, tak cukup untuk membalikkan keadaan, dan Indonesia lagi-lagi gagal meraih status juara.

3. Setelah Alfred Riedl ditunjuk sebagai pelatih

“Target kami minimal menjadi finalis Piala AFF,” kata Alfred Riedl, setelah ditunjuk sebagai pelatih timnas Indonesia, pada Juli 2016, sekitar empat bulan jelang laga Piala AFF 2016 digelar.

Pernyataan Riedl itu semula dianggap sebagai sesumbar kosong karena kondisi timnas Indonesia dianggap belum siap untuk bertarung dalam ajang sepak bola setingkat Asia Tenggara itu, setelah hukuman FIFA.

Konflik berkepanjangan antara PSSI dan pemerintah Indonesia, seperti diketahui, telah menyebabkan Indonesia dijatuhi sanksi FIFA berupa pengucilan dari kejuaraan internasional.

Dan lebih dari itu, roda kompetisi dalam negeri hancur berantakan, sebelum akhirnya pemerintah dan PSSI mengambil jalan tengah untuk menyelesaikan pertikaian itu demi masa depan sepak bola Indonesia.
Ujungnya adalah penunjukkan kembali pelatih asal Austria, Alfred Riedl, yang namanya berkibar saat berhasil mengantar timnas Indonesia ke final Piala AFF 2010 – walau akhirnya ditekuk Malaysia di final.

Kini, setelah target Riedl itu tercapai, yakni Indonesia lolos ke final Piala AFF 2016, masyarakat Indonesia seperti menemukan harapan baru pada sepak bola Indonesia.

“Lolosnya Indonesia ke final Piala AFF adalah prestasi di tengah keprihatinan,” kata Yunan Syaifullah, pengamat sepak bola dan penulis buku Filosofi Sepak Bola, Rabu (14/12) petang, kepada BBC Indonesia.
Di tengah situasi seperti itu, menurutnya, para pemain mampu tampil dengan mental dan teknis yang bagus selama laga Piala AFF tahun ini.

“Padahal persiapannya cuma tiga bulan, apalagi komposisi pemainnya tidak terbaik dari klubnya masing-masing,” kata Yunan.

Yunan memberikan contoh betapa pemain Indonesia memiliki mental yang bagus ketika menghadapi tuan rumah Vietnam di leg kedua semi final. “Di tengah tekanan ribuan massa, Indonesia mampu keluar dari kesulitan,” paparnya.

Lebih lanjut Yunan mengharapkan agar keberhasilan timnas Indonesia melaju ke final ini dapat dijadikan momentum untuk lebih meningkatkan prestasi timnas dalam kancah sepak bola internasional.

“Ini adalah awal. Sudah saatnya kita fokus terhadap pembinaan dan pendampingan pemain muda di segala level, khususnya di kelompok umur,” ungkapnya.

“Lalu ada komposisi yang seimbang di dalam klub profesional, siapa pemain-pemain muda yang bisa ditampilkan. Selama ini, klub-klub masih sangat tergantung 80% pada pemain-pemain yang sudah melampaui usia emas serta pemain asing,” kata Yunan.

4. Final Indonesia-Thailand: Siapa dijagokan?

Kekalahan Indonesia 2-4 dari Thailand di babak penyisihan grup Piala AFF 2016, pertengahan November lalu, sering dijadikan alasan Thailand lebih layak dijagokan untuk memenangi laga final.

Bahkan, pelatih timnas Indonesia, Alfred Riedl, sempat menjagokan calon lawannya itu untuk menjuarai Piala AFF 2016. Hal itu dia utarakan November lalu setelah anak asuhnya ditekuk pasukan ‘Gajah Putih’ tersebut.

“Thailand tetap jadi favorit di turnamen ini,” kata Riedl. Apakah pernyataan Riedl ini lebih sebagai perang urat syaraf atau pengakuan dalam arti sebenarnya?

Bagaimanapun, tidak sedikit orang di Indonesia yang sepakat bahwa timnas Thailand lebih layak dijagokan – setidaknya di atas kertas. Apalagi, mereka merujuk pada aksi Andi Firmansyah dkk saat bertemu Vietnam di laga semi final.

“Ajaib Indonesia menang,” begitulah kurang-lebih komentar sebagian warga Indonesia, usai laga berakhir, ketika Indonesia bersusah-payah meladeni penguasaan permainan Vietnam – yang hanya diperkuat 10 pemain.

Tapi, di luar analisis di atas kertas, banyak hal non teknis (termasuk pemain ke-12 yaitu dukungan suporter Indonesia) yang membuat masyarakat Indonesia yakin timnasnya akan mampu mengalahkan Thailand di laga leg pertama di stadion Pakansari, Rabu (14/12) malam.

5. Siapa pemain yang menentukan?

Stefano Lilipaly, gelandang timnas berusia 26 tahun, adalah salah satu ruh permainan timnas di lini tengah, begitu sanjungan sejumlah media terbitan Indonesia.

Pemain naturalisasi ini, memang, tampil meyakinkan selama ajang Piala AFF 2016. Bahkan, saat semi final laga leg kedua semi final melawan Vietnam, pemain yang memperkuat klub divisi dua liga Belanda, SC Telstar, ini mampu mencetak gol.

Lahir di Arnhem, Belanda, pada 10 Januari 1990, ayahnya adalah orang Indonesia, sementara ibunya, Adriana, adalah warga negara Belanda.

Bersama Boaz Solossa dan Andik Vermansyah, Lilipaly berperan penting perjalanan timnas Indonesia sehingga berhasil melaju ke putaran final Piala AFF 2016.

Selama turnamen ini, pergerakannya di lapangan tengah dan daya jelajahnya di daerah pertahanan lawan mampu merepotkan para pemain bertahan.

Operannya yang akurat dan tekanannya terhadap pemain lawan, akan membuatnya jadi perhatian khusus para pemain tengah Thailand.

Di pihak Thailand, ada sosok tangguh yang perannya sulit tergantikan dalam perjalanan mereka selama Piala AFF 2016. Dialah Sarach Yoyeen, pemain yang beroperasi di lapangan tengah.

Sarach Yooyen, yang berusia 24 tahun, memang pemain yang paling diharapkan untuk memenangi pertarungan lapangan tengah dalam laga final di stadion Pakansari, Rabu malam.

Dia adalah tipe pemain yang dianggap mampu menjaga permainan sekaligus jenderal lapangan tengah. Pemain lain yang menjadi tumpuan adalah pemain depan, Teerasil Dangda. []


Artikel Terkait :

About El Tirta

Check Also

Akankan Mou Sukses di Spurs?

Tujuannya jelas: mengarahkan klub kembali ke empat besar dalam jangka pendek dan, selama 18 bulan ke depan, mendapatkan beberapa trofi. Bisakah Mou?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *