Unik, Informatif , Inspiratif

Inilah 4 Kategori Hamba Allah yang Saleh Penentu Baiknya Dunia

0

Allah subhanahu wa ta’ala sejatinya menciptakan alam semesta beserta segala isinya ini untuk hamba-hamba-Nya yang saleh dan bertakwa. Baik sebagai ujian maupun nikmat, dunia ini sudah Allah wariskan kepada manusia, khususnya hamba-Nya yang saleh, sebagai khalifah (wakil-Nya) di muka bumi. 

Karena itu, kebaikan kehidupan di dunia ini begitu bergantung kepada orang-orang saleh yang menghuninya.

Related Posts
2

Kelak, Al-Quran Jadi Pembela bagi Pembacanya

Dalam kitab Al-Fushul al-‘Ilmiyah wa Ushul al-Hikamiyyah, Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad membagi orang saleh ke dalam empat kategori sebagai berikut:

 

1. Ahli ibadah yang istikamah

     عَابِدٌ مُسْتَقِيْمٌ زَاهِدٌ مُتَجَرِّدٌ ذُوْ مَعْرِفَةٍ بِاللهِ تَعَالَى كَامِلَةً وَبَصِيْرَةٍ فِي الدِّيْنِ نَافِذَةً

“Seorang ahli ibadah yang lurus, hidup dengan zuhud, perhatian penuh kepada Allah, arif billah, dan memiliki kesadaran tajam dalan keberagamaan.”

Kategori orang saleh pertama adalah para ahli ibadah yang istikamah.

Mereka mengutamakan zuhud, yang berarti menahan diri untuk tidak memburu kenikmatan duniawi.

Mereka mencurahkan seluruh hidupnya dengan sepenuhnya menghamba kepada Allah semata, yang berarti mereka habiskan waktunya untuk beribadah, baik secara vertikal (langsung kepada Allah) maupun secara horizontal (melalui sesama manusia).

Selain itu, mereka juga ma’rifat, yakni mengenal Allah subhanahu wa ta’ala secara dekat dengan mata batin.

Pengetahuan mereka tentang Allah dan alam semesta sangat mendalam sebagai anugerah khusus dari-Nya.

Juga, mereka memiliki kesadaran yang tajam dalam kaitan dengan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Allah sebagaimana diatur dalam syariat agama.

2. Ulama yang mengamalkan ilmunya

عَالِمٌ بِالشَّرْعِ، رَاسِخُ الْقَدَمِ فِي اْلعِلْمِ بِاْلكِتَابِ والسُّنَّةِ يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ وَيُعَلِّمُ النَّاسَ وَيَنْصَحُهُمْ، وَيَأْمُرُ بِاْلمَعْرُوْفِ، وَيَنْهَى عَنِ اْلمُنْكَرِ لَايُداهِنُ فِي الِّدِيْنِ، وَلَايَخْشَى فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ.

“Seorang ulama yang berpengetahuan mendalam dan luas tentang agama, memegang teguh pada Alquran dan Sunnah, mengamalkan ilmunya, mengajari dan memberikan nasihati kepada manusi, ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar, tidak bersikap munafik dalam urusan agama dan tidak terpengaruh oleh kecaman dari siapa pun (dalam membela apa yang telah ditetapkan oleh Allah).”

Kategori orang saleh kedua adalah para ulama yang allamah, yakni orang alim yang mengamalkan ilmunya.

Mereka istikamah dalam menegakkan amar makruf nahi munkar dan memiliki keberanian yang tinggi dalam membela kebenaran.

Mereka konsisten antara kata dan perbuatan.Meraka tidak takut kepada siapapun termasuk kepada para penguasa yang dapat menjebloskannya ke dalam tahanan atau penjara dan orang-orang kaya yang bisa memberinya fasilitas apa saja.

Ia hanya takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Pemimpin yang adil

سُلْطَانٌ عَادِلٌ مُنْصِفٌ حُسْنُ الِّسيْرَةِ صَالحُ السَّرِيْرَةِ، مُسْتَقِيْمُ السِّيَاسَةِ

“Seorang penguasa yang adil, jujur, berperilaku baik, berjiwa bersih, dan berpolitik lurus.” 

Kategori orang saleh ketiga adalah para penguasa atau pemimpin yang adil, jujur dalam kata maupun tindakan, memiliki jiwa yang bersih seperti ikhlas, rendah hati, dan sederhana.

Mereka juga memiliki cara berpolitik yang menjunjung tinggi akhlak mulia.

Mereka tidak mengabdi kepada kekuasaan itu sendiri, tetapi lebih pada tegaknya moral demi perdamaian dan kesejahteraan bersama sebagaimana diutusnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam untuk menyempurnakan akhlak manusia di dunia ini.

4. Hartawan yang saleh

غَنِيٌّ صَالِحٌ لَهُ مَالٌ طَيِّبٌ وَاسِعٌ يُنْفِقُهُ فِيْ وُجُوْهِ اْلخَيْرَاتِ وَيُوَاسِي مِنْهُ الضُّعَفَاءَ
 وَالمَسَاكِيْنَ ويُسِدُّ مِنْهُ حَاجَاتِ اْلمُحْتَاجِيْنَ لَمْ يُمْسِكِ اْلمَالَ وَلَمْ يَجْمَعْهُ إلَا لِذَالِكَ، وَلِمَا فِي مَعْنَاهُ مِنَ الخَيْرَاتِ وَاْلمَكْرُمَاتِ.

“Seorang hartawan yang saleh dengan memiliki harta yang bersih dan berlimpah, dibelanjakan untuk amal-amal kebaikan dan untuk menyantuni kaum lemah dan orang-orang miskin, serta untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang sedang dalam kesulitan. Ia tidak menyimpan dan mengumpulkan hartanya itu kecuali untuk maksud-maksud tersebut serta kebijakan-kebajikan dan santunan yang sesuai dengan itu.” 

Kategori orang saleh keempat adalah para hartawan yang saleh.

Mereka mendapatkan kekayaan yang besar dengan cara bersih.

Hartanya yang banyak tidak ditumpuk melulu untuk dipamerkan kepada publik, tetapi sebagai persedian dan kesiapan untuk menyantuni kaum lemah dan fakir miskin serta orang-orang yang membutuhkan bantuan karena kesulitan.

Jika hartanya kemudian menipis atau bahkan habis, misalnya, karena digunakan untuk keperluan di jalan Allah dan bukan untuk menuruti hawa nafsu, justru harta seperti inilah yang sejatinya tetap berada di tangan mereka hingga alam akherat karena telah dikonversi menjadi harta spiritual berupa amal-amal kebaikan untuk bekal hidup abadi di Sana.

Wallahu a’lam bishawab. []

 

Sumber: nu.or.id


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Kamu Sedang Offline