enam nasihat Imam al-Ghazali, orang yang merugi
Foto: pexels.com

Inilah 6 Nasihat Menyentuh Imam al-Ghazali

Abu Hamid Muhammad al-Ghazali atau lebih dikenal dengan Imam al-Ghazali adalah seseorang yang sangat ahli dalam hal pengetahuan. Keahliannya dalam hal pengetahuan tersebut mendapat gelar Hujjatul Islam, lantaran daya ingatnya yang kuat serta bijak dalam beragurmen.  Bahkan Imam al-Ghazali rela meninggalkan segala kemewahan duniawi hanya untuk bermusafir dan mencari ilmu pengetahuan.

Salah satu yang terkenal ialah enam nasihat Imam al-Ghazali tentang hal-hal yang dekat, jauh, besar, ringan dan tajam yang mengelilingi manusia.

Hal yang Paling Dekat adalah Kematian
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Imran: 185).

Kematian sangat dekat dengan insan yang bernyawa, ia mengelilingi lebih dekat dengan apapun. Tentulah, manusia hendaknya mampu bersikap dan mempersiapkan segala sesuatunya jika kematian datang. Karena ia akan datang tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Bagaimanapun, dalam keadaan apapun, kapanpun dan dimanapun akan menimpa siapapun.

Hal yang Paling Jauh adalah Masa Lalu
“(1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3).

Waktu, betapa Allah SWT memuliakan waktu dalam firmannya. Karena waktu adalah hal yang tidak bisa kita ulang. Dan manusia hendaknya menggunakan waktu seoptimal mungkin, mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Agar kelak saat kita tidak mendapatkan jatah waktu lagi, tak ada penyesalan atas waktu yang telah terlewati.

Hal yang Paling Besar adalah Hawa Nafsu
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah SWT). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-Araf: 179).

Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah nafsu. Karena sekelas Nabi Adam As masih goyah saat berhadapan dengan syetan yang mengganggu keteguhan imannya. Apalagi dengan kita yang hanyalah seorang hamba biasa. Maka hanya dengan mengingat Allah setiap saat adalah cara mengendalikan nafsu itu.

Hal yang Paling Berat adalah Menjaga Amanah
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72).

Terlihat ringan namun sangat berat, karena setiap amanah akan dipertanggungjawabkan dalam pengadilan sebenarnya oleh hakim sesungguhnya, Allah SWT.

Hal yang Paling Ringan adalah Sholat
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah:45).

Sholat adalah tiangnya agama, ia sebagai penerang manusia ketika berada dalam gelapnya liang lahat.

Hal yang Paling Tajam adalah Lidah Manusia
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Fitnah lebih kejam dari pembunuhan, jelaslah berawal dari omongan yang keluar dari lidah akan menyebabkan hal yang lebih besar. Tak heran, hendaknya manusia diam saat ia tidak bisa berkata yang baik. Karena saat keburukan yang keluar dari mulutnya, maka keburukan yang lebih besar akan terjadi. []

Sumber: Satumedia


Artikel Terkait :

About Fajar Zulfikar

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *