fakta unik surat al-baqarah
Foto: About Islam

Inilah Kunci Segala Kebaikan

Siapapun yang ingin menjadi kunci pembuka pintu kebaikan bagi dirinya dan orang lain, wajib baginya untuk merealisasikan tauhid dan ikhlas kepada Allah.

Sesungguhnya pembuka berbagai kebaikan yang paling agung adalah mengesakan Allah (bertauhid) dan mengikhlaskan peribadatan untuk-Nya semata. Bukankah bertauhid merupakan syarat seseorang berstatus sebagai seorang muslim?

Bukankah amal sebanyak apapun juga, jika pelakunya tidak mentauhidkan Allah akan sia-sia seluruh amal tersebut?

Bukankah ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya sebuah amal saleh? Bukankah ikhlas mendorong seorang hamba untuk senantiasa semangat melakukan kebaikan, karena orang yang ikhlas itu mengharap wajah Allah dalam beramal saleh?

Wahai saudaraku, ketauhilah tauhid adalah kunci dari seluruh kebaikan sekaligus merupakan kunci surga. Tidak mungkin seseorang memasuki surga kecuali dengan mentauhidkan Allah. Lā ilāha illallāh, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, kalimat Tauhid dan kunci surga.

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ Tidaklah salah seorang dari kalian berwudu lalu menyempurnakan atau membaguskan wudunya, lalu mengucapkan asyhadu allā ilāha illallāh, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasūluh, melainkan akan dibukakan untuknya delapan pintu surga, dipersilahkan ia memasukinya dari pintu manapun yang dikehendakinya” (HR. Muslim dari Umar bin Al-Khatthab raḍiyallāhu ‘anhu).

Oleh sebab itu, Imam Bukhari raḥimahullāh menyebutkan dalam kitab ṣahihnya bahwa Wahbun bin Munabbih pernah ditanya,

“Bukankah lā ilāha illallāh adalah kunci surga?” Beliau jawab, “Iya,tetapi tidaklah ada satupun kunci melainkan memiliki gigi-gigi, jika engkau membawa kunci yang bergigi, maka akan dibukakan (pintu) bagimu, jika tidak, maka tidak dibukakan (pintu) bagimu”.

Para ulama telah menyebutkan bahwa syarat lā ilāha illallāh ada tujuh, yaitu:

1. Ilmu tentang makna kalimat lā ilāha illallāh.

2. Yakin terhadap makna kalimat lā ilāha illallāh.

3. Jujur dalam mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh dan tidak dusta serta tidak pula munafik.

4. Ikhlas yang meniadakan kesyirikan.

5. Cinta terhadap kalimat lā ilāha illallāh dan kandungannya dan tidak membencinya.

6. Tunduk dengan melaksanakan tuntutan kalimat lā ilāha illallāh.

7. Menerima kalimat lā ilāha illallāh dan tidak menolaknya.

Barang siapa yang mengesakan Allah dan mengikhlaskan ibadah untuk-Nya semata, dan melaksanakan tuntutan kandungannya, dengan ikhlas dan sesuai Sunnah Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, niscaya ia akan menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan.

Maka siapapun yang ingin menjadi kunci, pembuka pintu berbagai kebaikan bagi dirinya dan orang lain wajib baginya untuk merealisasikan tauhid dan ikhlas kepada Allah dan meniatkan semua amal, ketaatan untuk Allah agar memperoleh pahala di surga. []

Sumber: Muslim.or.id


Artikel Terkait :

About Fajar Zulfikar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *