Unik, Informatif , Inspiratif

Inilah Mahram bagi Wanita dari Jalur Nasab

0

Mahram berasal dari kata haram yang maksudnya adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi, baik keharaman itu  bersifat selamanya maupun bersifat temporer.

Mereka yang haram dinikahi untuk selama-lamanya disebut dengan istilah Mahram Mu’abbad.

Misalnya, seorang wanita tidak boleh menikah dengan ayah kandungnya selama-lamanya.

Ada beberapa sebab yang menjadikan seseorang menjadi mahram mu’abbad bagi orang lain, yakni sebab hubungan darah/nasab atau kekerabatan (al-qarabah), hubungan yang terjadi akibat pernikahan (mushaharah), dan hubungan persusuan (radha’ah).

Adapun mahram dari jalur nasab disebutkan dalam al-Quran surah An-Nisa ayat 23:

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan;…..” (QS. An-Nisa: 23)

Ayat di atas secara tidak langsung menjelaskan pihak-pihak yang menjadi mahram mu’abbad bagi seorang wanita dari jalur al-qarabah, sebagai berikut:

  • Ayah kandung, kakek kandung (ayahnya ayah/ayahnya ibu), dst.
  • Anak laki-laki, cucu laki-laki, dst.
  • Kakak/adik laki-laki,
  • Kakak/adik laki-laki dari ayah (paman dari pihak ayah)
  • Kakak/adik laki-laki dari ibu (paman dari pihak ibu)
  • Anak laki-laki dari kakak/adik perempuan (keponakan)
  • Anak laki-laki dari kakak/adik laki-laki (keponakan)

“Paman” yang dimaksud disini adalah laki-laki yang punya hubungan persaudaraan langsung dengan ayah atau ibu kita.

Artinya, ia merupakan kakak/adik dari ayah atau ibu.

Baik si “Paman” ini punya hubungan persaudaraan kandung, atau seayah tapi lain ibu, atau seibu tapi lain ayah.

Dalam bahasa kita biasanya disebut: paman kandung dan paman tiri.

Adapun keponakan yang dimaksud disini adalah anak laki-laki dari kakak/adik.

Artinya, kita dengan orang tua si “keponakan” ini punya hubungan persaudaraan.

Baik hubungan itu sekandung (seayah dan seibu), atau seayah tapi lain ibu, atau seibu tapi lain ayah.

Wallahu a’lam bishawab. []

 

 

 

Sumber: rumahfiqihcom


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.