Unik, Informatif , Inspiratif

Inilah Tipu Daya Setan agar Manusia Jauh dari Jalan Allah

0 232

Tugas setan adalah melalaikan manusia dari ketaatan kepada Allah. Jadi, semua kelalaian adalah tipu daya Setan. Oleh karena itu, manusia harus bisa menahan diri dari perbuatan yang merupakan ajakan setan.

Dalil bahwa syaithanlah yang menyebabkan Bani Adam lupa, sampai pada taraf dimana Adam AS makan dari pohon (terlarang) adalah firman Allah:

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat,” (QS Thaha: 115).

BACA JUGA: Setan Menangis? Ini Penyebabnya

Sehingga ketika dia dan yang membuatnya lupa adalah setan, dia makan dari pohon (terlarang). Setanlah yang menyebabkan sahabat Musa AS lupa, Allah berfirman:

“Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali’,” (QS Al-Kahfi: 63).

Setan menyerang dari semua sisi. Setan mempertahankan kekuasaannya kepadamu dengan menyerang semua sisi sehingga engkau lupa mengingat Allah. Sehingga jika dia berhasil membuatmu lalai dari mengingat Allah, engkau telah menjadi bagian dari golongan syaithan, Allah berfirman:

“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.” (QS Al-Mujadilah: 19).

BACA JUGA: Kentut Setan, Inikah Maknanya?

Setan mengumpulkan orang dalam pertandingan sepakbola, mencurahkan perhatian padanya, dan engkau tidak akan mendapati salah seorang di antara mereka berkata: “Tidak ada tuhan yang patut disembah dengan benar kecuali Allah,” maka dia mengumpulkan manusia dengan kesungguhan, bermain, dan engkau tidak melihat mereka mengingat Allah. [].

Referensi: E-book Metode Syaithan dalam Menyesatkan Manusia/ Syaikh Abu Islam Saalih bin Thaha ‘Abdul Wahid/ Maktabah Raudhah al-Muhibbin /2008

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline