Hukum Adzan untuk Wanita
Foto: Liputan6

Inilah Waktu dan Hal yang Dilakukan Rasulullah saat Iktikaf Ramadan

Iktikaf adalah salah satu aktivitas ibadah pada bulan suci Ramadan yang takpernah terlewatkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Beliau senantiasa melaksanakan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Pada saat iktikaf, Rasulullah memperbanyak intensitas penghambaan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengosongkan jiwa, raga, serta pikirannya dari hal-hal yang bersifat duniawi.

Pada malam hari, sepuluh hari terakhir tersebut, biasanya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam senantiasa membangunkan keluarganya untuk ikut meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar r.a., bahwasannya “Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam senantiasa melaksanakan iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan yang beliau dapati.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, Aisyah r.a. mendeskripsikan tingkat intensitas ibadah yang Rasulullah lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Aisyah r.a. berkata, “Bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam jika memasuki sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan senantiasa menghidupkan malam-malamnya, membangunkan istri-istrinya, serta mengencangkan sarungnya.” (HR. Bukhari)

Maksud dari ucapan Aisyah r.a.: “menghidupkan malam-malamnya”, yaitu mengisi malam-malam terakhir bulan Ramadan dengan ibadah-ibadah yang meningkatkan kedekatan beliau dengan sang Khaliq.

Adapun ungkapan “mengencangkan sarungnya” merupakan sebuah metafora yang menggambarkan keuletan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam melaksanakan ibadah-ibadah wajib maupun sunnah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Lebih lanjut, dalam sebuah riwayat Aisyah r.a. mendeskripsikan bagaimana Rasulullah melaksanakan iktikaf.

Aisyah r.a. berkata, “Bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam jika ingin melaksanakan iktikaf ia masuk ke dalam tempat iktikafnya setelah melaksanakan shalat subuh dan beliau senantiasa membuat tempat khusus (semacam kemah) untuk beriktikaf ketika beliau ingin melaksanakan iktikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadis tersebut, beberapa fukaha berpendapat bahwasannya iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dimulai setelah shalat subuh pada hari kedua puluh Ramadan.

Adapun, hal-hal yang disunahkan ketika beriktikaf adalah memperbanyak zikir kepada Allah serta memperbanyak salat sunnah sebagai bentuk penghambaan seutuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’la.

 

Wallahu a’lam bishawab. []

 

 

Sumber: islami.co


Artikel Terkait :

About matiar

Check Also

ibadah hari raya idul adha

Fikih seputar Lebaran, dari Malam Takbiran hingga Shalat Ied

Fikih Lebaran di sini maksudnya adalah sejumlah hukum syara’ yang terkait dengan hari raya Idul Fitri, baik sebelum, pada saat, maupun sesudah shalat Idul Fitri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *