Unik, Informatif , Inspiratif

Istiqlal, Simbol Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

0 133

INSPIRADATA. Masih terlintas peristiwa aksi bela Al Qur’an (4/11/2016) lalu. Ratusan ribu umat Islam memutihkan jalanan ibukota, mengidupkan masjid Istiqlal hingga ada yang mengatakan bahwa pada hari itu shalat subuh di sana seperti shalat subuh di Masjidil Haram. Luar biasa, Indonesia patut bersyukur bahwa di negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini berdiri sebuah masjid yang juga terbesar se-Asia Tenggara, yaitu Masjid Istiqlal, Jakarta.

Namun bukan hanya itu yang dapat kita banggakan dari bagunan masjid berkapasitas ratusan ribu jama’ah ini.  Dibalik megahnya  masjid ini, terbesit suatu pembelajaran tentang toleransi beragama dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Mengapa demikian?

Ada fakta menarik tentang pembangunan masjid ini yang tertulis dalam sejarah Indonesia yang mungkin belum diketahui secara luas oleh seluruh masyarakat. Ide awal didirikannya masjid Istiqlal memang digagas oleh sekelompok ulama Islam pada tahun 1953. Mereka adalah KH Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘merdeka’ sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal, lalu membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Mengenai lokasi pendirian masjid memang sempat terjadi perdebatan. Namun akhirnya Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda. Bukan tanpa sengaja atau tanpa sebab kenapa lokasi tersebut dipilihnya. Lokasi masjid ini dibangun berdekatan dengan rumah ibadah agama lain. Bahkan saat ini jarak antara keduanya hanya dipisahkan jalan raya yang lebarnya kurang dari 100 meter saja. Ternyata Soekarno ingin menunjukkan sikap kerukunan antar agama di Negara Indonesia.

Apalagi, ketika dilakukan sayembara desain arsitektur masjid yang jurinya diketuai langsung oleh presiden Soekarno. Diperoleh 5 orang pemenang  yaitu: Frederich Silaban dengan desain yang berjudul “Ketuhanan”, R Utoyo dengan desain berjudul “Istigfar”, Hans Gronewegen dengan desain berjudul “Salam”, tim mahasiswa ITB dengan desain berjudul “Ilham”, tim mahasiswa ITB lainnya yang berjudul “Katulistiwa”, serta dari NV Associatie yang bertemakan “Lima Arab”.

Dari, penentuan lokasi dan pendirian masjid tersebut dapat diketahui bahwa telah terjalin hubungan harmonis antar umat beragama di dalamnya. Sebab, pada kenyataannya, masjid pembangunan masjid Istiqlal tidak lepas dari jasa seorang arsitek nonmuslim yaitu Silaban. Kubah masjid istiqlal yang merupakan masterpieces-nya bahkan telah diakui Universitas Darmstadt, Jerman Barat sebagai hak cipta Frederich Silaban, yang disebut sebagai “Silaban Dom” (qubah Silaban).

Uniknya ada dua nama Frederich dalam pembangunan masjid ini. Pertama arsiteknya. Kedua, lokasinya yaitu bekas benteng Belanda Frederick Hendrik  yaitu antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran. Sampai kini masjid Istiqlal masih berdiri dengan kokoh di atas lahan tersebut.  Dan, secara simbolik menjadi sebuah bangunan yang mencerminkan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.[]

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline