Unik, Informatif , Inspiratif

Iwan Fals

0

Oleh: Saad Saefullah

Musisi seperti Iwan Fals, hanya lahir mungkin seratus tahun sekali. Itu sebabnya, ia tak akan pernah tergantikan. Saya pertama kali menggandrungi Iwan Fals ketika SD, lewat “Buku Ini Aku Pinjam”. Sebenarnya, saya tidak begitu paham Iwan Fals, hanya karena di lagu itu ia bersama Ian Antono—gitaris God Bless yang sangat saya sukai. Belakangan, saya baru tahu kalau lagu ini titipan produser agar bisa menjaring remaja. Bang Iwan awalnya ogah menggubah lagu ini karena mungkin tidak sejalan dengan napas perjuangannya.

Karya Iwan Fals paling fenomenal buat saya adalah satu album “Mata Dewa” dan dua buah lagu ”Bento” dan “Bongkar” di awal 90-an. “Bongkar” adalah himne besar yang menikam di zaman itu. Bahkan anak SMP kelas 2 di kota kecil Purwakarta yang jauh dari hingar bingar konspirasi seperti saya, belum apa-apa sudah mengerti, bahwa lagu ini membahana meneriakkan ketidakadilan. Saya tidak tahu, apakah lagu ini masih relevan tidak dinyanyikan oleh Bang Iwan sekarang ini.

Kemudian, setelah “Orang Gila” di tahun 1994, namanya nyaris tak lagi terdengar karena tak ada yang baru darinya, kecuali berita kematian Galang Rambu Anarki, jelang akhir 2000-an. Pun begitu, di tahun 2003, Bang Iwan kembali dengan sederet lagu cinta hasil kolaborasi dengan anak-anak muda. Namun, setelah itu, bisa dibilang, susah untuknya untuk kembali melahirkan karya-karya fenomenal seperti “Umar Bakri”, “Bung Hatta”, atau “…. Habis berbatang-batang, tuan belum datang …”

Tapi, soal penggemar, jangan tanya. Saya pernah naek metromini di Cililitan. Satu pengamen masuk, membawakan “Sebelum kau bosan sebelum aku menjemukan. Tolonglah ucapkan dan tolong engkau ceritakan. Semua yang indah semua yang cantik. Berjanjilah”. Duduk samping saya, seorang bocah milineal, mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mulutnya ikut bernyanyi. Busyet dah ah, lagu itu ditulis tahun 1986, jauh melampui usia bocah tersebut yang baru 14 tahun, tapi itulah Iwan Fals—ia milik semua golongan.

Sekarang, penggemar Bang Iwan sepertinya terbelah. Kakak saya, fanatik Iwan Fals, waktu saya kelas 2 SMP, dari tape recorder-nya, setiap pagi dan malam setelah isya, 10 lagu di “Mata Dewa” ia setel keras-keras, hingga saya hapal semua liriknya saat itu. Namun sekarang, ia—kakak saya itu, yang sama sekali tak begitu peduli urusan politik, agak berbelok. Preferensi sang “Manusia Setengah Dewa” sepertinya memang sedikit banyak berpengaruh dan membentuk polarisasi.

Begitulah. Ada banyak yang saya ingat dari Iwan Fals. Yang tak pernah lupa adalah… “Sudah cukup jauh perjalanan ini Lewati duka lewati tawa, Lewati s’gala persoalan… Kucoba berkaca pada jejak yang ada, Ternyata aku sudah tertinggal. Bahkan jauh tertinggal ….” []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.