Jadi Diri Sendiri, Bukan Berarti Seenaknya Sendiri

Jadi Diri Sendiri, Bukan Berarti Seenaknya Sendiri

Man on top of mountain. Conceptual design.

INSPIRADATA. Be your self, artinya jadi diri sendiri. Kalimat ini sangat santer dikalangan remaja ataupun dewasa. Dimana mulai masa penjajakan diri. Menurut beberapa orang berpandangan bahwa, menjadi diri sendiri artinya kita bebas melakukan apapun sesuka kita, tanpa melihat nilai-nilai yang berlaku. Jelas ini adalah cara pandang yang tidak tepat. Jadi diri sendiri, bukan berarti seenaknya sendiri. Mengapa demikian?

Begini penjelasan yang dilansir dalam Islampos:

Q.S. Al Anbiya[21]:107, yang artinya :
“dan tiadalah Kami mengutus engkau (hai Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamiin)”

Dalam tafsir Marah Labid (Tafsir Munir), Syaikh An Nawawi Al Jawi menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut :
“Tidaklah Kami utus engkau wahai makhluk yang paling mulia, dengan berbagai peraturan (syariah), melainkan dalam sebagai rahmat Kami bagi seluruh alam, dalam agama maupun dunia. Karena manusia dalam kesesatan dan kebingungan, maka Allah swt. mengutus Sayyidina Muhammad saw. sehingga beliau saw. menjelaskan jalan menuju pahala, menampilkan dan memenangkan hukum-hukum syariah Islam, juga membedakan yang halal dan yang haram. Setiap Nabi sebelum beliau saw., manakala didustakan oleh kaumnya, maka Allah swt. menghinakan mereka dengan berbagai siksa. Namun bila kaum Nabi Muhammad saw. mendustakannya, Allah swt mengakhirkan azab-Nya hingga datang kematian dan Allah swt mencabut ketetapan-Nya membinasakan kaum pendusta Rasul. Inilah umumnya tafsiran para mufassirin.” Sehingga Islam akan menjadi rahmatan lil ‘alamin bila syariah Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Jelaslah disana mengapa kita tidak boleh melakukan segala sesuatunya dengan seenaknya sendiri. Setiap manusia memang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tapi, bukan berarti itu menjadi alsan bagi kita untuk tidak memperbaiki diri sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Contohnya seperti khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terkenal dengan kebijaksanaannya, Umar bin Khattab dengan ketegassannya, Usman bin affan dengan kelembutannya, dan Ali bin Abi Thalib dengan kecerdasannya. Para khalifah ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tapi mereka gunakan semua itu untuk memperbaiki diri dan berjuang di jalan Allah SWT.


Artikel Terkait :

About Tia Apriati Wahyuni

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *