berusaha, Jangan Berputus Asa, Berusahalah Terus
Unik, Informatif , Inspiratif

Jangan Berputus Asa, Berusahalah Terus

0

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang dekat dengan Allah SWT, senang membantu orang disekelilingnya. Bukan hanya sekedar mencari perhatian dan mendapat pujian. Tapi, lebih dari itu ia menebarkan kebaikan melalui kebaikan.

Seperti yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah pada masa itu. Saat ia tengah melakukan kebiasaannya, ia melewati sebuah rumah yang terletak dipedesaan. Jendela yang terbuka membuat suara orang di dalamnya terdengar keluar. Keluhan dan tangisan yang cukup keras.

BACA JUGA: Cara Memandang Nasib

Abu Hanifah pun menghampirinya agar bisa mengetahui apa yang terjadi. Tidak disangka, pemilik rumah sedang meratapi nasibnya.

“Aduhai, sangat malangnya nasibku ini. Nampaknya tiada seorang pun yang lebih malang daripadaku. Nasibku ini sungguh celaka dan aku memang tidak beruntung. Dari pagi sampai sekarang, belum datang sesuap nasi atau makanan lewat di kerongkongku. Adakah hati yang berbelas-kasihan sudi memberi curahan air walaupun sedikit?”

Abu Hanifah pun terperanjat. Melihatnya membuat ia iba. Ia pun merasa bertanggungjawab atasnya. Akhirnya ia mmeberikan bantuan tanpa diketahui oleh siapapun.

Maka, Abu Hanifah pun bergegas kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah bungkusan yang berisi uang. Hendak diberikannya bungkusan itu kepada orang tersebut. Abu Hanifah bergegas kembali ke rumah orang yang meratap tadi.

Setelah sampai di depan rumah orang itu, Abi Hanifah tidak mengetuk pintunya. Melainkan melemparkan begitu saja bungkusan itu ke rumah orang yang sedang meratap-ratap lewat jendelanya. Lalu ia pun meneruskan perjalanannya dengan kelegaan yang mungkin hanya sementara.

Mendapatkan sebuah bungkusan yang tiba-tiba dari arah jendelanya yang terbuka, ia bukan buatan terkejutnya orang tersebut. Ia bertanya-tanya dalam hati sambil tergesa-gesa membukanya.

Seteah melihat isinya yang berupa uang cukup banyak, ia menemukan secarik kertas. Yang bertuliskan, “Hai kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Sesungguhnya, kamu tidak perlu mengeluh atau meratapi nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus.”

Dalam keadaan gembira, orang itu menuruti apa yang tertulis di kertas tersebut. Lalu, ia pun bersuka cita membelanjakan uang itu untuk kebutuhan sehari-harinya.

Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah yang sama. Tapi nyatanay suara keluhan masih terdengar. Orang yang sama seperti kemarin.
“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku,” ratapnya.

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun kembali melemparkan bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar. Sepertinya ia sudah menyiapkan bungkusan itu sebelumnya. Dan seperti biasanya, Abu Hanifah pun meneruskan perjalanannya.

Jelas saja, orang itu meloncat-loncat kegirangan. Ia yakin jika didalam bungkusan itu adalah uang. Ternyata, benar saja isinya sama seperti kemarin. Tidak lupa juga terdapat secarik kertas di dalamnya.

“Hai kawan, bukan begitu cara bermohon. Bukan begitu cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian ‘malas’ namanya, dan putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridho Allah melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan, jangan berbuat demikian. Raihlah kesenangan dengan bekerja dan berusaha. Kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan memperkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. InsyaAllah, akan dapat juga pekerjaan itu selama engkau tidak berputus asa. Nah, carilah segera pekerjaan. Aku doakan semoga bisa berhasil.”

BACA JUGA: Doa Paling Indah

Selesai membaca surat itu, dia termenung. Kali ini, dia sadar akan kemalasannya. Sudha terlalu lama ia larut dalam keluhannya tanpa ikhtiar dan usaha.

Esokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak hari itu, sikapnya berubah jauh dari sebelumnya. Ia pun tidak lupa akan nasihat dari secarik kertas itu. []
Sumber: Peri Hidup Nabi & Para Sahabat


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.