Unik, Informatif , Inspiratif

Jarak Kebaikan dan Jarak Keburukan

0

Sebuah  kisah menarik dituturkan Rasulullah saw. melalui riwayat Abu Said Al-Khudri ra.

“Pada masa sebelum kalian, ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Ia bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia ditunjukkan kepada seorang rahib.

“Setelah bertemu rahib, ia bertanya, ‘Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?’ Rahib pun menjawab, ‘Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.’ Dan orang itu pun membunuh rahib, hingga genaplah 100 nyawa yang telah ia bunuh.

“Kemudian, ia kembali mencari keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Setelah bertemu, ia bertanya, ‘Jika seseorang telah membunuh 100 nyawa, apakah taubatnya masih diterima?’

“Orang alim menjawab, ‘Ya, tak ada yang bisa menghalangi taubat seseorang. Hijrahlah dari tempat ini menuju tempat yang terdapat orang-orang yang menyembah Allah swt. Sembahlah Allah bersama mereka. Dan jangan kembali ke tempat yang dulu karena keadaannya sangat buruk.’

“Ia pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan orang alim). Ketika di tengah perjalanan, kematian menjemputnya. Terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab.

“Malaikat rahmat mengatakan, ‘Orang ini datang dalam keadaan bertaubat karena Allah.’ Malaikat azab mengatakan lain, ‘Orang ini belum melakukan kebaikan sedikit pun.’

“Lalu datang melaikat lain yang diutus Allah untuk menengahi. Malaikat ini mengatakan, ‘Ukurlah jarak antara jasad orang ini dengan tempat yang ia tinggalkan dan tempat yang ia tuju. Jarak mana yang lebih dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.’

Setelah diukur, para malaikat mendapati bahwa jasad si pembunuh 100 nyawa lebih dekat dengan tempat yang akan ia tuju. Akhirnya, ruhnya dicabut oleh malaikat rahmat.” (Riyadhus-shalihin, bab Taubat)

***
Subhanallah. Melalui Nabinya, Allah swt. mengungkapkan kekuasaanNya. Itulah kehendak Allah yang dialami sang pembunuh 100 nyawa. Seburuk apa pun seseorang, jika kebaikan telah menjadi ketetapan Allah, maka ia berakhir dengan kebaikan. Dan begitu pun sebaliknya.

Doa adalah media seorang mukmin untuk memohon kepada Allah agar senantiasa dalam kebaikan, dan mengakhiri hidup ini dalam kebaikan. Hanya orang-orang zhalim yang merasa aman dengan ‘makar’ Allah swt. []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.