Unik, Informatif , Inspiratif

Kala Rasulullah Menatap Bumi Pertama Kali

0

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam merupakan manusia termulia di bumi ini. Ia menjadi suri tauladan bagi semua kalangan. Tapi, tahukah kalian bagaiamana kisah pertama kali manusia mulia ini memijakkan kaki di bumi?

Dikisahkan dari Ibnu Sa’ad, ibunda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan, “Ketika aku melahirkannya, dari farajku (kemaluanku) keluarlah cahaya yang karenanya istan-istana negeri Syam tersinari.”

BACA JUGA: Ya Rasulullah, Mengapa Engkau Berdoa Seperti itu?

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ad-Darimi, serta periwayat selain keduanya yang meriwayatkan versi yang hampir serupa dengan riwayat tersebut.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan di tengah kabilah besar Bani Hasyim di kota Makkah pada pagi hari Senin, tanggal 9 Rabi’ul Awwal. Hari itu bertepatan dengan tragedi pasukan gajah. Tepat pada tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M.

Ketika beliau lahir, beberapa kejadian yang di luar nalar terjadi karena kehendak Allah SWT. Hal itu menandakan bahwa sang Rasul terakhir sebagai rahmat seluruh alam telah lahir ke dunia. Pembawa kabar gembira bagi umat manusia yang beriman kepada Allah SWT, dan pemberi peringatan bagi orang yang musyrik terhadap Allah SWT.

Adapun tanda-tanda awal ketika kelahirannya ialah jatuhnya 14 beranda istana kekaisaran Persia. Api yang disembah oleh kaum Majusi, padam. Robohnya gereja-gereja di sekitar danau Sawah setelah airnya menyusut.

BACA JUGA: Inilah 7 Teguran untuk Rasulullah yang Diabadikan Dalam Al-Quran

Ibunda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun mengirim utusan ke kakeknya, Abdul Muthalib untuk memberitahukan kabar gembira kelahiran cucunya.  Abdul Muthalib pun datang dan memboyong cucunya itu masuk ke Ka’bah, berdoa dan bersyukur kepada Allah SWT.

Nama Muhammad diberikan oleh beliau, padahal masa itu nama Muhammad tidaklah populer. Tapi akhirnya sampai hari ininama itu yang paling dikenal Umat. []

Sumber: Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad, Oleh: Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, Darul Haq


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.