Karena Sopir Tulis ‘SAYA TIDAK TAHU ARAH JAKARTA DAN BOGOR’

INSPIRADATA. Lelah dan katuk mendatangi sang sopir, siang hari nan terik serta angin sepoi dari sawah dan kendaraan yang melintas menyapu kepalanya hingga tertidur melepas rasa penat dan keinginannya tidur.

Karena kantuk dan lelahnya, adalah hijau sawah yang melambai-lambai tersapu angin di sebelah jalan, serta gemercik air selokan bening di samping-samping jalan semakin mendukung rasa kantuk sang sopir. Riuh dan bising kendaraan di jalan raya, tak membuatnya terusik sama sekali.

Baru juga lima menit merasakan empuknya jok supir dengan bantalan di atasnya, datanglah seorang traveller dari kota jauh dan bertanya sambil mengetok kaca pintu mobil sang sopir dengan sopannya. Terpaksa kantuk harus dilawan untuk menggubris traveller.

“Tok-tok-tok,” suara ketokan di kaca pintu mobil yang menaik sedikit.

“Pak-pak, mohon maaf, ke Bandung kemana, Ya?” Tanya traveller.

“Oh iya, dek, ke kiri saja, nanti ada rambu-rambu lebih jelasnya,” jawab sopir sambil senyum dengan kantuk menyerangnya.

Lanjutlah sang sopir menggubris rasa kantuk dan lelah di joknya, sambil menikmati angin sawah serta jalan dan gemercik air selokan.

Lima menit berselang, ada sepasang pemuda –ya… terlihatnya islami– mungkin mereka pasturi muda. Mengetok kaca mobil di samping sopir.

“Tok-tok-tok,” ketokan sang seorang istri muda itu. “Pak, mohon maaf, arah ke Bogor kemana ya?” Tanya yang satu lagi.

“Mmm…” jawab sopir, sambil mengusap mata dan keningnya tanda masih ngantuk, “Ke Bogor ke kiri dek, nanti ada rambu-rambu di arah jalan kiri sana agar lebih jelas,” sambil menunjuk ke kiri persimpangan jalan di depan sana.

“Oh, iya makasih banyak pak,” kata pasturi muda Islami itu, sambil diteruskan dengan bunyi klakson mobil sedan mereka.

“Duh, betapa malangnya aku, hanya bermenit saja istirahat ini,” keluh sang sopir, “Adakah yang bertanya lagi nanti?” sambil lihat ke kaca spion mobil.

“Ahaa… saya punya ide,” katanya di depan spion.

Di bangku belakang, sang sopir menemukan karton yang seukuran dengan kaca pintu mobilnya, kurang sedikit. Ditulisnya lah semacam imbauan dengan spidol dari laci di depannya.

‘SAYA TIDAK TAHU ARAH JAKARTA DAN BOGOR’ tulisnya.

Lanjutlah rasa kantuk dan lelah digubrisnya, di jok depan mobil dengan bantal empuk di kepala atasnya. Sambil ditemani gemercik air selokan dan angin sawah nan indah dari lambaian hehijauan sepanjang penglihatan.

Tak lama berselang sang sopir tertaut dengan kantuknya, datanglah motor matic dengan suara sedikit bising yang kemudian menghampiri sang sopir.

“Pak-pak!” seru pengendara motor, sang sopir pun bengun. “Ada apa dek?”

Dengan gagahnya, si pengendara mengacungkan tangannya ke depan arah mobil.

“Pak,” kata pengendara motor sambil senyum dan menahan tangannya.

“Kalau ke Jakarta ke kiri, dan ke Bogor ke kanan, ya Pak,” katanya, “Hehe,” sedikit tersenyum si pemuda itu.

“Aduh, gimana ini!” Kata sopir.

“Gimana apanya Pak?” Tanya pengendara motor tadi.

“Engga mas, makasih,” sambil mengacungkan jempol.

Padahal seribu padahal, pak sopir baru saja… tolong orang ke Jakarta-Bogor. []


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

dampak buruk bekerja dari rumah

Pekerja Keras Rentan Alami Burnout, Ini Ciri-cirinya

Stres pun biasanya akan datang saat sudah sangat letih bekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *