Foto: Malangtimes/Bisnis.com

Karya 2 Orang Ini Ditolak di Indonesia, namun Bersinar di Luar Negeri

Siapa sangka di negara Indonesia yang masih masuk dalam kategori negara berkembang, dihuni oleh orang-orang yang luar biasa. Banyak dari anak bangsa yang berprestasi di berbagai bidang dalam kancah Internasional.

Salah satunya adalah Warsito dan Muhammad Nurhuda, keduanya adalah orang Indonesia yang berhasil menemukan penemuan baru. Namun sayang, karya dua orang ini ditolak di Indonesia. Padahal prestasi mereka bersinar di luar negeri hingga mendapatkan pengakuan.

Foto: bisnis.com

1. Warsito

Warsito merupakan ilmuan Indonesia yang menempuh pendidikan S1 hingga S3 di Jepang. Lewat ilmu yang didapat, dia kemudian menciptakan Electro Capacitance Cancer Therapy (ECCT) guna terapi kanker dan Electro Capacitance Volume Tomography (ECCT) untuk diagnosis kanker.

Namun karena dianggap belum terbukti keamanan dan manfaatnya, klinik riset kanker miliknya ditutup pemerintah. Proyeknya pun terhenti.

Tak dihargai di Indonesia, teknologi buatannya ternyata malah dihargai di Jepang dan telah diterapkan untuk mendiagnosa dan menyembuhkan kanker. Dia pun telah diundang ke Polandia untuk memberikan pelatihan terhadap alat yang ditemukan.

“Semua berawal ketika kakak perempuan saya divonis kanker payudara stadium 4. Dokter telah angkat tangan, hanya ada dua pilihan yakni mencari pengobatan alternatif atau menunggu kematian,” ujarnya mengutip Bisniscom, Rabu (14/6/2017).

Foto: Malangtimes

2. Muhammad Nurhuda

Melansir Malangtimes, Muhammad Nurhuda, dosen Universitas Brawijaya, Malang. Dia berhasil membuat kompor hemat bahan bakar dan ramah lingkungan berbasis biomassa dengan emisi gas buangnya jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Penggunaannya bahkan cukup dengan kayu cacahan. Namun, ternyata tak ada masyarakat Indonesia yang berminat membelinya.

Tapi siapa sangka kalau karya Nurhuda malah mendapat apresiasi dari Norwegia. Kompor biomassanya ini malah diproduksi massal di Norwegia untuk dipasarkan ke negara-negara lainnya.

Mereka berdua hanya sebagian kecil dari anak-anak bangsa yang berprestasi dengan bidangnya masing-masing. Namun karena kurangnya fasilitas dan dukungan di negeri sendiri, membuat karya mereka lebih diharga dan bersinar di luar negeri. []


Artikel Terkait :

About Saefullah DS

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *