Kata TGB soal “Lawan” Politik

0

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi memberikan penjelasan terkait pemberitaan dirinya yang mendukung Presiden Jokowi untuk menjabat selama 2 periode.

BACA JUGA: Tanggapan Sekjen PDI-P soal Isu TGB Bakal Jadi Cawapres Jokowi

Dalam penjelasannya di video yang diunggah di akun Instagram @tuangurubajang itu, TGB menyampaikan kepada para tokoh-tokoh yang terjun dalam politik Indonesia, untuk berhenti menganggap kontestasi tersebut sebagai perang.

“Apa aset kita yang tidak terlihat sebagai bangsa? Aset yang tidak terlihat itu adalah persaudaraan dan persatuan kita sebagai bangsa. Kita ini bersaudara. Apakah bapak-bapak berani mengatakan bahwa anda adalah yang haq, sementara lawan politik adalah yang bathil seperti kafir Quraisy? Siapa yang berani? Kalau saya tidak berani. . .

Siapapun yang mendengar ucapan saya ini, tokoh-tokoh, guru-guru yang saya muliakan. Tolong berhentilah berkontestasi politik dengan mengutip ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an. Kita tidak sedang berperang. Kita ini satu bangsa. Saling mengisi dalam kebaikan. . .” kata TGB.

Apa aset kita yang tidak terlihat sebagai bangsa? Aset yang tidak terlihat itu adalah persaudaraan dan persatuan kita sebagai bangsa. Kita ini bersaudara. Apakah bapak-bapak berani mengatakan bahwa anda adalah yang haq, sementara lawan politik adalah yang bathil seperti kafir Quraisy? Siapa yang berani? Kalau saya tidak berani. . . Siapapun yang mendengar ucapan saya ini, tokoh-tokoh, guru-guru yang saya muliakan. Tolong berhentilah berkontestasi politik dengan mengutip ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an. Kita tidak sedang berperang. Kita ini satu bangsa. Saling mengisi dalam kebaikan. . . Kalau kita berkontestasi politik atau apapun, letakkan itu dalam “fastabiqul khoirot". Letakkan itu dalam “lita’arafu”. Beda-beda gagasan, semangatnya adalah untuk ta’aruf, saling mengisi dan saling belajar. Siapa yang bisa menyelesaikan masalah Indonesia sendirian? Hanya bisa dilakukan jika kita semua bersama-sama. Apa yang kemarin ada di media-media. Saya banyak sekali menerima pertanyaan tentang masalah ini. Tuduhan-tuduhan juga banyak. Hujatan-hujatan juga lebih banyak. Ya tidak apa-apa. Kan kita hidup itu kalau ungkapan para ulama, membuat semua orang senang atau menyenangkan semua orang itu sesuatu yang mustahil. . . Jadi kalau kita mau bikin senang, ya kepada yang menciptakan manusia saja lah. Itu urusannya pasti baik. Kalau kita berusaha mencari ridha dan keridhaan Allah supaya mencintai kita, itu pasti menguntungkan. Tapi kalau kita berepot-repot untuk mencari kecintaan manusia, atau “menjilat” manusia, itu biasanya akan kecewa dan tidak akan membawa kebaikan apa-apa. Wallohu a’lam bishowab. #tuangurubajangofficial #tebarkebaikan #sebarkebenaran #tebarkandamai #tabayyundulu #bagiilmu #aset #persaudaraantanpabatas #haq #bathil #janganberpecahbelah #stop #konflik #perang #janganasal #kutip #ayat #alquran #fastabiqulkhoirot #litaarafu #salingmengisi #salingbelajar #cari #cintaallah #ridha #allahswt

A post shared by Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi (@tuangurubajang) on

Dia juga menambahkan bahwa politik harusnya diletakkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot).

“Kalau kita berkontestasi politik atau apapun, letakkan itu dalam “fastabiqul khoirot”. Letakkan itu dalam “lita’arafu”. Beda-beda gagasan, semangatnya adalah untuk ta’aruf, saling mengisi dan saling belajar. Siapa yang bisa menyelesaikan masalah Indonesia sendirian? Hanya bisa dilakukan jika kita semua bersama-sama,” kata TGB.

Ketua Alumni Al Ashar itu juga menjelaskan soal dukungannya terhadap pemerintahan Jokowi yang mengundang pro dan kontra.

BACA JUGA: Sindir TGB, Amien Rais: Jangan Ikuti Tokoh yang Keluar Jalan Allah

“Apa yang kemarin ada di media-media. Saya banyak sekali menerima pertanyaan tentang masalah ini. Tuduhan-tuduhan juga banyak. Hujatan-hujatan juga lebih banyak. Ya tidak apa-apa. Kan kita hidup itu kalau ungkapan para ulama, membuat semua orang senang atau menyenangkan semua orang itu sesuatu yang mustahil. . .

Jadi kalau kita mau bikin senang, ya kepada yang menciptakan manusia saja lah. Itu urusannya pasti baik. Kalau kita berusaha mencari ridha dan keridhaan Allah supaya mencintai kita, itu pasti menguntungkan. Tapi kalau kita berepot-repot untuk mencari kecintaan manusia, atau “menjilat” manusia, itu biasanya akan kecewa dan tidak akan membawa kebaikan apa-apa. Wallohu a’lam bishowab,” papar TGB. []

Kamu Sedang Offline