Foto: satujam

Kehidupan Adalah Sejarah yang Berulang, Belajarlah Darinya

Foto: satujam

INSPIRADATA. Kehidupan adalah sejarah yang berulang. Ia akan muncul kembali ke permukaan, untuk menampakkan wajahnya. Meski pun dalam sosok, kisah dan setting yang berbeda namun tetap dalam esensi yang sama.

Dahulu. Kita mengenal sosok Fir’aun yang zalim, Mengaku dirinya sebagai tuhan dan berbuat semena-mena terhadap rakyatnya. Kini pun hadir sosok Fir’aun di abad milenium yang muncul ke permukaan bumi.

Dalam sejarah pun kita mengenal orang-orang yang giat di jalan dakwah. Berjuang menyebarkan Islam, menegakkan panji Allah SWT demi bumi yang makmur dan damai. Apapun akan mereka korbankan untuk tegaknya agama Allah di bumi ini. Begitu pun hari ini, saat banyak penerus para Nabi (ulama) giat untuk menegakkan kebenaran di zaman pemimpin zalim.

Dari sejarah pun kita tahu, di dunia ini pernah ada kaum qaa’idun, yaitu kaum yang kerjanya hanya duduk-duduk saja. Mungkin golongan diwakili oleh orang yang monumental. Contoh panglima dari golongan ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Yang aktivitasnya adalah hanya menilai, mengomentari, mengkritik bahkan menghujat amal dakwah nyata yang sudah dilakukan saudaranya. Sementara ia sendiri tidak melakukan apapun. Hari ini, sejarah kembali menghadirkan orang-orang dengan perilaku NATO (Never Action Talk Only).

Sejarah pun mengajarkan sikap kesatria dan kejujuran. Tiga orang sahabat mulia Rasulullah, Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ah dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi. Mereka tidak mau seperti para munafik dan pendusta yang tidak ikut berperang, tapi bergegas datang kepada Rasul seraya meminta maaf atas ketidakhadiran mereka dengan alasan dan uzur yang mereka buat-buat.

Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan ‘uzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang).

Katakanlah: “Janganlah kamu mengemukakan ‘uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya. Dan Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At-Taubah: 94)

Ka’ab, Murarah dan Hilal memilih jalan lain, jalan seorang kesatria. Mengakui kesalahan mereka sejujur-jujurnya dan siap dengan resiko apapun. Karena mereka tahu, mungkin bisa saja Rasulullah mereka bohongi, tapi tidak dengan Allah, karena Allah MahaTahu segalanya.

Dan akhirnya kita tahu Ka’ab, Murarah dan Hilal memang dihukum oleh Allah dan Rasul-Nya dengan hukuman yang sangat berat, tidak boleh berinteraksi dalam bentuk apapun dengan saudara seimannya sampai waktu yang tidak ditentukan. Dan karena sikap jujur, kesatria dan kesabaran serta keistiqamahan mereka Allah langsung mengampuni mereka di hari yang ke-50 dari menjalani hukuman. Dan sikap inilah yang mengangkat tinggi derajat mereka. Kisah ini menjadi salah satu cerita monumental tentang sikap jujur dan kesatria dalam Al-Qur’an.

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS At-Taubah: 118)

Dan hari-hari ini pun kita kembali diajarkan sikap seperti ini oleh seorang elit wakil rakyat di negeri kita. Beliau memang melakukan satu kesalahan, tapi dengan jujur dan kesatria beliau mengakui kesalahannya, mengambil konsekuensi mundur sebagai tanggungjawabnya dan siap dengan proses apapun sebagai ganjaran dari kesalahannya.

 

Pelajaran dari semua ini adalah bagaimana kita memahami bahwa jika kita dekat dengan Allah, niscaya pada setiap kesalahan kita akan Allah SWT langsung beri teguran dalam bentuk yang tidak pernah kita duga. Pelajaran lainnya adalah bagaimana kita bisa menghisab diri kita, bahwasanya dalam diri kita,masih banyak dosa yang tersembunyi dan masih Allah tutupi, agar kita segera bertaubat dari kesalahan itu, sebelum Allah benar-benar mempertontonkan kesalahan itu pada orang lain.

 

Sumber: Dakwatuna.com


Artikel Terkait :

About Tia Apriati Wahyuni

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *