Kemenangan Mahathir di Malaysia Jadi Momok Tersendiri bagi UEA

0

Terpilihnya Dr. Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri Malaysia cukup menyita perhatian dunia. Energi positif dari kemenangan itu menular ke beberapa negara termasuk Republik Indonesia.

Namun, ada yang menarik di tengah euforia atas kemenangan Mahathir tersebut.

Pasalnya, kemenangan itu menyisakan api dalam sekam tersendiri bagi Uni Emirat Arab.

Setidaknya, itu yang tergambar dalam cuitan Abdulkhaleq Abdullah, penasihat Putra Mahkota Abu Dhabi, Muhammad bin Zayed.

Dilansir dakwatuna dari Aljazeera, Abdulkhaleq mengomentari kemenangan Mahathir dengan cukup sentimentil.

Bahkan, ia mempertanyakan bagaimana sosok yang berusia 92 tahun itu bisa terpilih untuk memimpin sebuah negara seperti Malaysia.

“Apakah Malaysia kekurangan orang bijak, pemimpin, negarawan, dan pemuda, sehingga orang renta 92 tahun menang dalam pemilihan? Sosok yang membuat partai dan sekutunya berbalik, serta menjalin kesekapatan rahasia dengan lawan politik yang dulunya ia penjarakan. Itulah politik ketika menjadi kutukan, dan demokrasi menjadi kemarahan,” ungkap Abdulkhaleq.

Cuitan itu terkesan aneh karena menyerang negara demokrasi.

Terlebih yang ia serang adalah tokoh besar dalam kebangkitan Malaysia.

Benarkah Abdulkhaleq hanya sentimen dengan faktor usia Mahathir? Atau ada faktor lain?

Tampaknya usia bukan faktor utama, mengingat Emirat juga pernah mendukung sosok seusia Mahathir untuk memimpin negara, yaitu Presiden Tunisia Beji Caid el Sebsi.

Bahkan, sosok Mahathir terbilang masih lebih muda daripada Raja Salman di Saudi dan Presiden UEA Khalifah bin Zayed.

Pernyataan Abdulkhaleq Abdullah tampak sebagai gema dari lingkaran pengambil keputusan di Abu Dhabi setelah kemenangan tak terduga oposisi Malaysia.

Terlebih UEA memberikan dukungan kepada PM Malaysia dan partainya dalam pemilu tersebut.

Hal ini disebut juga sebagai rangkaian dari kemunduran politik Putra Mahkota Abu Dhabi.

Seperti dinilai banyak pihak, dalam beberapa bulan terakhir Abu Dhabi mengalami kemunduran strategi politik dari Laut Merah hingga Amerika Serikat.

Kemunduran ini tentu akan membuka skandal dana sovereign Malaysia, yang disebut-sebut UEA turut berperan dalam skandal tahun 2016 tersebut.

Keterlibatan UEA diduga melalui beberapa tokoh yang berkolusi dengan mantan PM Malaysia.

Seperti diketahui, Najib Abdul Razak yang kalah dari Mahathir, terancam akan diseret dalam skandal ini. Sementara nama UEA, juga dinilai akan mencuat dalam investigasi.

Pada Januari 2017 lalu, Wall Street Journal mengungkap keterlibatan Dubes UEA untuk AS, Yousef Al Otaiba, dalam skandal ini.

Disebutkan, peranannya dilakukan melalui perusahaan terkait yang menerima jutaan dolar dari perusahaan luar negeri.

Menurut penyidik Amerika dan Singapura, dana tersebut dana tersebut disimpangkan dari Dana Pembangunan Malaysia.

Tampaknya skandal yang dijanjikan Mahathir untuk diungkap inilah yang menjadi faktor pernyataan sentimentil dari Abdulkhaleq Abdullah.

Ini pula yang menjadikan kemenangan Mahathir sebagai ketakutan tersendiri bagi Uni Emirat Arab. []

 

Kamu Sedang Offline