Foto: dfiles

Kenapa Dzuhur dan Ashar Dipelankan?

INSPIRADATA. Anda mungkin pernah mendengar pertanyaan, mengapa bacaan dalam sharat Dzuhur dan Ashar dipelankan saat berjama’ahnya? Betul?

Meskipun bukan persoalan wajib atau sunnah, akan tetapi bacaan shalat dzuhur dan ashar yang dikeraskan atau tidak, lebih bertumpu pada kebolehan dalam pelaksanaannya atau tidak.

Firman Allah SWT berikut ini dapat menjadi landasan mengapa bacaan pada shalat dzuhur dan ashar tidak bersuara.

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah antara keduanya.” (Al-Isra 110)

Tafsir dan sebab turunnya ayat tersebut ialah ketika Rasulullah berada di Mekkah, beliau melaksanakan Shalat berjamaah bersama para sahabat dengan mengeraskan bacaan surat. Saat itu kaum musyrikin Mekkah mendengarnya, lalu mencaci bacaan Rasul tersebut, mencaci Dzat yang menurunkannya dan mencaci pula yang menyampaikannya (Rasulullah).

Karena itulah Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu” sehingga potongan ayat tersebut bermaksud agar orang musyrik tidak mendengar bacaannya.

Tetapi Allah juga menyampaikan, “dan jangan pula merendahkannya” sehingga bacaan mesti tetap terdengar oleh sahabat yang ada di shaff pertama. Oleh karena itu, Allah melanjutkan dengan “dan carilah jalan tengah antara keduanya.”

Tetapi dalam riwayat lain menjelaskan bahwa ketika sudah berhijrah ke Madinah, perintah tersebut gugur. Beliau boleh melakukan yang beliau kehendaki antara keduanya. Dari keterangan tersebut, Allah memerintahkan agar tidak mengeraskan bacaan saat siang hari (shalat Dzuhur dan Ashar) agar tidak menjadi celaan bagi musyrikin.

Sementara bacaan shalat maghrib, Isya dan Shubuh dapat dizhahirkan. Adapun hukum tentang hal ini, telah dijelaskan dalam Shahih muslim, Abu Hurairah memberitahukan tentang keadaan Rasulullah saat Shalat.

“Rasulullah Shalallau ‘alaihi wasallam pernah shalat bersama kami. Pada shalat dzuhur dan ashar, beliau membaca Al-Fatihah dan dua surat pada rakaat pertama. Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca. Beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dari shalat dzuhur dan memendekannya pada rakaat kedua. Begiru juga shalat subuh.”

Dari keterangan di atas, pada kalimat “Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca” bahwa adanya kebolehan mengeraskan (jahar) atau memelankan (sirr) bacaan, bukan menjadi syarat sah dalam shalat. []


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *