Unik, Informatif , Inspiratif

2 Keputusan

0
, 2 Keputusan
Foto: Google Play

Ragu De memijit nomor-nomor itu pada pesawat telepon rumahnya. Sejenak sunyi, yang terdengar hanya nada tunggu. De cuma menahan nafas.

“Ya halo, assalamualaikum?” sebuah suara berat di seberang sana terdengar.

Gengsi rasanya bagi De untuk langsung mengetahui siapa gerangan pemilik suara itu. Padahal untuk sebuah telepon genggam, kemungkinan besar hanyalah satu orang yang permanen memakainya. “Dengan, … Akhi Zein?” tanyanya.

“Ya betul. Eu’ …. Ukhti?”

De mengangguk. Suatu perbuatan yang beberapa menit kemudian ia anggap bodoh karena orang yang ajak bicara tentu tak akan mengetahuinya. De cuma bisa bengong.

“Halo, Ukhti?”

“Eh…. Ya…” De mengerjap. Tersadar sepersekian detik. Ini dengan telepon genggam. Jika berlama-lama, gawat-surawat namanya.

Akhir bulan bapak tentu ngamuk berat jika tagihan teleponnya tiba-tiba membludak. Hanya untuk satu nomor telepon pula. Fuih…

“Akhi…., saya perlu bicara….”

“Ya? Ada.. apa?”

Sebelum De menjawab pertanyaan itu, De tiba-tiba berharap. Berdoa agar orang yang tengah ia ajak bicara akan menyilakannya berbicara lewat saluran telepon biasa saja. Telepon kantornya. Sialnya, itu tidak terjadi. “Ini tentang kita….”

“Ya….”

Dari tadi kok Ya, Ya, Ya-an melulu sih? “Akhi, sepertinya saya…”

“Ya?”

Bengong lagi. De segera teringat air-time pulsa yang harus dibayar bapak. Jadinya ia hanya bisa ngomong, “Saya tak bisa meneruskan ini….”

“Maksud Ukhti, meneruskan apa?”

“”Nggg…. ” Celaka, bengong lagi. Tapi tampaknya bengong menjadi salah satu bagian dari akhwat jika sedang dalam situasi seperti ini. Tanpa bengong, niscaya ke-akhwat-an seoarng akhwat akan sirna. Maka walau bukan ide bagus, De meneruskan bengongnya beberapa jenak. Struk tagihan telepon membayang di kepalanya. Ya udah deh, jatah bulanannya siap dipangkas.

“Halo Ukhti…. Masih di situ?”

“Ya ya…” De menggeregap lagi. Sungguh, ini nggak romantis. “Akhi, begini… Saya, saya tak bisa meneruskan….”

Tak ada tanggapan. De menggigit bibir.

“Akhi, saya tak bisa meneruskan ‘proses’ yang sedang kita jalani…”

Kali ini sunyi. Untuk bagian ini De sudah menduganya demikian.

“Ngghh…. ” Suara di seberang sana kedengaran gamang. De tidak menyukai itu, tapi cukup menikmatinya. Menikmatinya?

“Ya Ukhti…”

Manggil kok pakai “Ya,-Ya” melulu (lagi). Emangnya permulaan riwayat hadist apa? Tapi tak urung De meresponnya, “Ya…?”

“InsyaAllah, saya terima….”

Lho? “Apa?” De sedikit tersedak.

“InsyaAllah, keputusan Ukhti saya terima…”

“Lho?”

“‘Lho?’. Kok?”

De gundah mendadak. Jawabannya kok simpel dan pendek seperti itu sih? Kali ini bukan karena khawatir akan tagihan telepon yang harus dibayar, tapi karena merasa bingung dengan jawaban itu, Dek menutup telepon, “Mungkin begitu saja dulu, Akhi. Afwan, lain kali saya sambung…. Assalamuallaikum…”

Bahkan sebelum De mendengar jawaban salamnya, ia telah meletakkan horn telepon. Lunglai, disertai gundah, ia melangkah menuju kamarnya. Meraih Alquran kecilnya.

***
De tak habis pikir. Kok begitu sih? Kok simpel amat? Bukankah itu sesuatu yang besar dan penting? Atau jangan-jangan tidak bagi dia? Bagi Akhi itu. Akhi itu? Kok jadi sedikit keki menyebut namanya. Siapa sih? Zein. Ya Zein. De sendiri hampir menghabiskan waktu dua minggu untuk memikirkan itu. Begitu mudahnyakah itu bagi dia untuk mengambil keputusan? Untuk menyetujui “proposal” yang diajukan De?

Sepertinya De harus meneleponnya lagi. Negoisasinya tak berjalan alot. Harusnya kan dia bertanya-tanya dulu mengapa De mundur. Ah, dasar ikhwan cuek… Eh, apa iya Zein ikhwan cuek?

Tapi ini sudah dua hari. Dan tak sebentarpun Zein menghubunginya. Dari ustadzahnya pun, De tak mendapat kabar apa-apa. Apa ini tak melibatkan ustadz dan ustadzah mereka berdua? Jangan-jangan Akhi itu malah senang De mundur. Segenap tanya hadir di kepala De.

Akhirnya ia kembali menghampiri pesawat teleponnya lagi. Dan untuk kesekian kalinya ia harus sedikit menyerepahi Telkom. Lho, apa hubungannya? Soalnya, jaringan telepon belum masuk wilayah Zein tinggal. Jadi harus melalui HP lagi. Tagihannya? Ah, bisa diurus… Maksudnya, De sudah benar-benar ikhlas jika bapak tidak memberinya jatah selama dua bulan.

“Ya, ada apa Ukhti?” Itu kalimat pertama yang didengar De dari Zein. Ada apa, Ukhti? Ada apa? Tentu banyak apa-apa! De jadi kesel sendiri. Nih ikhwan sebenernya dulu itu—sebulan lalu itu—serius nggak sih?

“Afwan Akhi… tentang apa yang kemarin saya sampaikan kepada Akhi itu….”

“Ya…?”

“Ngghhh….,” De menggaruk-garuk kepalanya, “Akhi tidak bertanya kenapa?”

“Ya kenapa?”

De menahan nafas. Sepertinya kok jadi blunder begini sih? Kok malah jadi De yang meminta. Pulsa tentu makin membumbung, De jadi kesal tak karuan. “Akhi, itu perlu penuturan yang panjang…”

Zein malah tidak terdengar suaranya. “Afwan Ukhti, maksud saya, afwan sekali lagi afwan, tadi itu memangnya kenapa kalau saya tidak menanyakannya?”

Jeee, kayaknya De pengen nangis sekarang deh! Kok begitu sih…

Ada kediaman menyibukkan mereka. Dulu—sebulan lalu—De sangat menyukai kediaman yang selalu merebak di antara mereka ketika ia dan Zein “berdiskusi” seperti itu. Zein itu “datang”, mengkhitbahnya maksudnya, sebulan lalu. De menerimanya. Tentu setelah ia berpikir satu minggu lebih dan salat istikharah yang berulang-ulang. Hanya karena banyak sebablah De tiba-tiba mengurungkan (membatalkan) jawaban “iya”-nya pada Zein. Cuma De sama sekali tidak memimpikan bahwa ini akan “mulus” dan “lancar-lancar” saja seperti ini…

“Halo, Ukhti….?”

De memalingkan muka. Ia merasa “tak terima” diperlakukan seperti itu. Oleh Zein. Tapi segera De sadar, ia yang memulai…

“Ukhti,” Zein bersuara. Suaranya masih seperti dulu, tetap datar. “InsyaAllah saya mengerti. Mungkin Ukhti tersinggung dengan sikap saya ini….”

Nah, dia cerita….

“Dulu Ukhti, ketika saya datang kepada Ukhti, saya landaskan karena Allah. Ada titian yang sangat penting yang ingin saya bangun. Cuma walau begitu, saya tetap bersikap realistis. Walau Ukhti sudah menerima saya—eh, tadinya—saya masih sangat menyiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa proses itu akan gagal. … ”

Teringat tiba-tiba pulsa telepon HP, uh bisa nggak sih bikin kalimat simpel dan to the point saja? Ini pakai telefon rumah! Tapi tampaknya De pun perlu mengetahui ‘penuturannya’. Penuturan Zein itu.

“Bagi saya, bahwa sebelum ada akad yang terikrar di antara kita, apapun masih bisa terjadi. Berhasil atau gagal masih sama-sama besar kansnya. Dan adalah hak Ukhti untuk membatalkannya. … Jadi saya tidak terlalu terkejut ketika Ukhti dua hari yang lalu itu menyampaikan hal itu kepada saya…”

De terdiam. Makin terdiam.

“….. Walau jujur saja, saya juga sedikit banyak sungguh sangat bersedih….”

Lho, Zein—akhi itu—curhat? Jangan-jangan iya…

“Tapi….” Zein melanjutkan, “Saya pikir, sama ketika Ukhti pertama kali memutuskan “iya”, saya pikir keputusan Ukhti membatalkannya juga melalui proses dan pemikiran yang panjang. Yang tidak sebentar. Tentu istikharahnya beberapa kali lipat…”

Kok tau sih? “Ngghh, lalu…?” Kok lalu sih? Sepertinya lalu bukan pertanyaan atau kata sambung yang cukup ‘bergizi’ deh..

“… Dan…,”

Dan! Harusnya De bilang ‘Dan…?’ tadi itu.

“…. Dan, saya pikir, tidak terlalu penting untuk menanyakan alasan kenapa Ukhti mengambil keputusan itu….”

Lho, kenapa? Apa karena engkau itu ikhwan cuek?

“Bukan, bukan karena saya ikhwan cuek. Lagipula kata siapa saya cuek…”

Lho, jadi kalimat itu diucapkan De ya? De kaget, sekaligus jadi pengen ketawa….

“Karena Ukhti, apapun penjelasan itu, penjelasan Ukhti itu, tidak akan mengubah apapun jugakan, insyaAllah. Saya pikir, kita berdua adalah orang yang cukup tahu bahwa apa yang kita jalani—maksudnya kemarin-kemarin itu, proses-proeses itu—bukan sesuatu yang main-main. Jadinya tentu kita sudah benar-benar matang memikirkan apapun itu yang akan dan sedang kita jalani…”

Yap, pinter dia! Nggak heran Zein lulus Teknik Fisika dengan IPK 3,5 lebih entah berapa… Ups, Allah, semoga yang ini tidak terlontar tanpa sadar. Buru-buru De menyela, “Akhi, tadi tidak mendengar saya mengatakan… sesuatu kan?”

“Sesuatu?” Zein sepertinya mengernyit, “Dari tadi Ukhti diam….”

Alhamdulillah, syukurlah…

“Halo, Ukhti…?”

“Ya saya masih di sini kok…”

“Afwan, Ukhti jika saya yang berbicara terus…. Dulu saya datang baik-baik dan kita memulainya dengan baik-baik saja. Jika sekarang harus euh, katakanlah tidak lancar, saya harap semuanya baik-baik saja juga….”

Itu juga yang dimaui oleh De. Kemudian De terlalu sibuk dengan diam. Sampai Zein bertanya, “Apa ada yang lain yang ingin disampaikan oleh Ukhti?”, De menggeleng. Setelah sedikit berbasa-basi percakapan terhenti. De menatap horn telepon lama. Akhir bulan bapak harus bersiap-siap untuk sakit jantungan mendadak. Mungkin tagihan telepon akan lima kali lipat dari biasanya. Mungkin juga lebih. Di ruang tengah, De mendengar televisi mengakhiri “Liputan-6” sore. De menggigit bibir. Ada yang sunyi di sana. []

Jakarta, 03. 01.02


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.