Unik, Informatif , Inspiratif

Kesan Dr. Oz di Kamp-kamp Pengungsian Perbatasan Turki-Suriah

0 113

Hatinya tersentuh, benaknya membersit kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Dokter ahli bedah Amerika berdarah Turki itu mengesankan perasaan saat mengunjungi kamp-kamp pengungsi.

Dr Mehmet Oz, dokter sekaligus pembawa acara talk show kesehatan terkenal itu menyebutkan, kunjungannya pada Juli itu tidak akan pernah dia lupakan. Di perbatasan Suriah-Turki.

BACA JUGA: Jumlah Pengungsi Palestina yang Terbanyak di Dunia

“Saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi kamp-kamp pengungsi Suriah di sepanjang perbatasan Suriah-Turki dengan bantuan Otoritas Penanggulangan Bencana dan Keadaan Darurat Turki (AFAD) dan Bulan Sabit Merah Turki.”

“Meskipun orang-orang yang kami temui telah bertahan dari kesulitan, kisah mereka memberi inspirasi. Ini adalah perjalanan yang mengubah saya selamanya,” kata Oz dalam postingan Twitter-nya.

Oz, yang dikenal luas karena program televisinya The Dr. Oz Show—serta telah memenangkan sejumlah penghargaan Emmy –mengunjungi kamp-kamp pengungsi di provinsi Gaziantep, Turki dan wilayah Azaz di barat laut Suriah pada Juli lalu tahun ini.

Lewat akun Twitter-nya, dia membagikan rekaman tentang kota Homs yang hancur akibat perang di Suriah barat serta kunjungannya ke kamp-kamp.

“Sebelumnya saya tidak pernah ke kamp pengungsi. Saya tidak tahu apa yang harus saya harapkan. Hal pertama yang mengejutkan saya adalah keramahan,” kata Oz dalam rekaman video yang diambil di sebuah kamp pengungsi di Turki.

Menyoroti upaya pihak berwenang Turki, Oz mengatakan, “Saya duduk berbicara dengan anak-anak saat mereka melukis, menyadari bahwa banyak dari mereka menderita PTSD (gangguan stres pasca trauma) dan telah kehilangan hampir segalanya. Saya sangat terkejut oleh kemampuan mereka menyembunyikan rasa sakit.”

Dia kemudian melakukan perjalanan melintasi perbatasan Suriah ke wilayah Azaz di utara Aleppo, dia pun mengunjungi kamp-kamp pengungsi lain.

“Saat memasuki klinik kesehatan, saya terkejut dan khawatir karena tak ada teknologi yang memadai, tidak teratur.”

Yang terparah, “Untuk 11.000 orang yang tinggal di kamp, hanya ada satu dokter yang bekerja dalam satu shift.”

Saat kunjungannya ke kamp, ia didekati oleh seorang pria karena putrinya yang berusia 12 tahun membutuhkan perawatan medis di rumah.

BACA JUGA: Kisah Penguasa Asia yang Wafat dalam Keadaan Miskin di Pengungsian

“Kami bertemu dengan Zaynab. Dia terlahir dengan cacat jantung. Tapi sebelum dokter melakukan operasi, perang pun berkecamuk. Keluarganya berakhir di sini. Mereka putus asa,” kesan Oz.

Dengan tanggap, Dr Oz pun meninjau ekokardiogram-nya, darah Zaynab tidak membawa oksigen yang cukup, hal tersebut terlihat saat tubuh putri malang itu membiru. “Dia kurus, lemah, dan mudah lelah. Jika dibiarkan tidak diobati, dia tidak akan bertahan hidup sampai dewasa,” sambung Dr Oz. []

SUMBER: ANADOLU

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline