wanita, Ketahuilah, Ini Perempuan Pertama yang Berperang di Jalan Allah
Unik, Informatif , Inspiratif

Ketahuilah, Ini Perempuan Pertama yang Berperang di Jalan Allah

0

wanita, Ketahuilah, Ini Perempuan Pertama yang Berperang di Jalan AllahINSPIRADATA. Jika kita mendengar kata perang, tentu kita akan berpikir bahwa lelaki yang melakukannya. Sedang perempuan hanya berdiam diri di rumah, mendoakan keselamatan suaminya. Ternyata, pikiran seperti ini tidak selamanya benar. Ada pula perempuan yang ikut andil dalam berperang.

Jihad di jalan Allah memang dianjurkan. Hanya anjuran ini tidak berlaku bagi perempuan. Tetapi, rasa cintanya terhadap Allah dan agama yang dibawa oleh Rasulullah, membuatnya memiliki semangat juang yang tinggi. Maka, kini dapat kita temukan perempuan-perempuan yang mau berjihad.

Tahukah Anda, siapa perempuan pertama yang berperang di jalan Allah? Dalam beberapa riwayat diketahui bahwa perempuan penuh pesona ini memiliki tiga sebutan, yaitu Ummu Amarah, Ummu Imarah, dan Ummu Umarah. Salah satu anak dari Ka’ab bin Amru ini dikenal sebagai muslimah agung yang tidak pernah mundur melawan musuh di peperangan, sebagai ahli ibadah dan memiliki pendirian kokoh. Sementara, riwayat lain mengatakan jika ia adalah perempuan mulia dan perjuangan.

Meskipun Ummu Imarah perempuan perisai Rasulullah sibuk dengan jihad dan dakwah, tapi ia tetap menjadi seorang istri dan ibu yang teladan di sepanjang zaman. Awalnya, ia menikah dengan Zaid bin ‘Ashim. Dalam pernikahan yang barakah ini Allah menganugerahi dua putra yang ikut serta untuk berjihad, yakni Habib dan ‘Abdullah.

Setelah suaminya meninggal, maka ia dinikahi oleh Ghazyah bin Amru. Sepasang suami istri ini juga dikaruniai seorang putri dan diberinya nama Khaulah. Beberapa riwayat menjelaskan bahwa ia bersama keluarganya mempunyai peranan penting dalam perjuangan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa ia juga seorang istri yang sangat memahami apa saja kewajiban yang harus dipenuhinya. Sementara, sebagai seorang ibu, ia mempunyai jiwa yang penuh dengan kasih sayang untuk anak-anaknya.

Kekaguman pada perempuan sholehah ini tidak hanya berhenti sampai di situ. Ia juga tercatat sebagai perempuan yang ahli ibadah. Atas izin suaminya, ia menjalankan puasa pada siang hari dan malam harinya digunakan untuk shalat dan berdzikir pada Allah. Hal ini dibuktikan dengan Syeikh Mahmud yang mengatakan bahwa ia kebingungan dari mana harus memulai kisahnya tentang perempuan sholehah ini.

Berdasarkan cerita sahabat perempuan Rasulullah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa meskipun sebagai perempuan, tapi seharusnya itu tidak membuat kita berhenti untuk berjihad. Jihad dan membela ajaran Islam adalah kewajiban bagi setiap umat muslim.

Meskipun demikian, kita juga harus mengetahui apa saja kewajiban bagi seorang istri dan ibu. Bukan berarti dengan ikut serta dalam berjihad lantas membuat kita lupa akan kewajiban atau kodrat sebagai seorang perempuan. Semua amalan itu haruslah seimbang dalam pelaksanaannya. Terlebih, di zaman sekarang, berjihad tidak hanya bisa dilakukan dengan ikut berperang, tapi masih ada hal lain yang bisa kita lakukan dan bernilai jihad di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. []

Sumber: www.kumpulanmisteri.com


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.