Foto: Ilmfeed

Ketika Abu Hanifah Tolak Jabatan dari Khalifah

Nu’man bin Tsabit al-Kufi atau kita lebih mengenal beliau dengan nama imam Abu Hanifah. Ulama besar dari Kuffah.

Suatu waktu beliau dipanggil Khalifah Abu Jafar al-Manshur, khalifah yang berkuasa saat khilafah Abbasiyyah berjalan. Imam Abu Hanifah pun menghadap. Ia ditawari jabatan tinggi untuk menjadi katua mahkamah agung.

Karena rasa Zuhudnya, Abu Hanifah pun menolak. Ia ditangkap dan dipenjara.

Khalifah hampir kehabisan akal untuk membujuk Imam Abu Hanifah, menurutnya sang imam adalah satu-satunya ahli hukum yang baik. Hanya Abu Hanifah lah yang pantas menerima jabatan tersebut.

“Bawa Abu Hanifah ke hadapanku!” titah Khalifah.

Abu Hanifah pun dibawa menghadap Khalifah. “Aku tak pernah mengenal orang yang memahami hukum-hukum agama lebih baik daripadamu,” kata khalifah. “Karena itu aku memilijmu menjadi ketua mahkamah agung. Itu keputusan finalku.”

“Wahai Amirul Mukminin,” kata Abu Hanifah. “Sungguh saya tidak bisa menerima jabatan setinggi itu.”

“Mengapa?”

“Di negeri ini tak ada ahli hukum yang lebih baik selain Anda, hai Amirul Mukminin.”

“Kau bohong!” seru khalifah.

“Wahai amirul mukminin, kalau Anda sudah tahu bahwa saya ini seorang pembohong, mengapa Anda pilih saya untuk mengisi jabatan tersebut? Apa jadinya jika ketua mahkamah agung adalah seorang pembohong?” Kilah Abu Hanifah.

Khalifah pun kalah debat. Ia tak bisa menjawab apapun. Abu Hanifah pun dibebaskan. []

Referensi: 31 Cerita Ba’da Isya. Karya Sofyan Mashuri


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *