Unik, Informatif , Inspiratif

Ketua Dewan Pers: 95% Berita Kesehatan di WhatsApp Hoax

0 100

Ketua Dewan Pers Indonesia, Yosep Stanley Adi Prasetyo mengatakan, kebanyakan isu kesehatan yang tersebar di Whatsapp merupakan berita bohong alias hoax.

“Informasi kesehatan yang tersebar di Whatsapp 95 persen adalah hoax,” kata Stanley, sapaan akrabnya, di acara Kongres Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Jumat (16/11/2018).

BACA JUGA: Hati-Hati, Hoax Lowongan Kerja

Stanley pun memaparkan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi dan mengatasi hoax.

Menurut Stanley, hal yang dibutuhkan untuk memerangi hoax adalah kecerdasan dari masyarakat. “Kalau dapat informasi jangan langsung percaya,” katanya.

Dia mengatakan, penting bagi masyarakat memverifikasi informasi yang diperoleh sebelum menyebarkan informasi tersebut.

Verifikasi

“Verifikasi, kalau kesehatan kepada dokter, apakah informasi yang didapat benar atau tidak,” ujar Stanley.

Menurut Stanley, hal yang dibutuhkan untuk memerangi hoax adalah kecerdasan dari masyarakat. “Kalau dapat informasi jangan langsung percaya,” katanya.

Dia mengatakan, penting bagi masyarakat memverifikasi informasi yang diperoleh sebelum menyebarkan informasi tersebut.

“Verifikasi, kalau kesehatan kepada dokter, apakah informasi yang didapat benar atau tidak,” ujar Stanley.

Satu hal yang juga sangat penting ditanggapi dengan hati-hati adalah informasi lewat video. Saat ini banyak beredar video, namun tidak jelas siapa pembuatnya.

“Banyak informasi berbentuk video sehingga orang yakin ‘wah ini bener’,” tutur Stanley.

Tabayyun

Menurut Ketua Dewan Pers ini, ketidakmampuan masyarakat untuk bertabayun atau memeriksa kebenaran informasi yang diperoleh, sebelum membagikannya kembali ke orang lain, membuat hoax semakin marak.

BACA JUGA: Kiat Tabayyun di Medsos dari Asma Nadia

“(Hoax) dibuat untuk menipu masyarakat,” dia menegaskan.

Menurut dia, banyak alasan kenapa orang senang membagikan berita hoax. Di antaranya adalah karena berita itu dianggap berasal dari orang yang bisa dipercaya, dan menganggap informasi yang dibagikan bermanfaat.

“Yang sering jadi korban, keluarga kita. Teman-teman kita,” Stanley menegaskan. []

SUMBER: IDNTIMES

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline