Unik, Informatif , Inspiratif

Kisah Jenderal Benny Moerdani, Minta Dimakamkan Secara Islam saat Meninggal

0

Jenderal Benny Moerdani adalah legenda dunia intelijen dan tokoh penting dalam perkembangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) . Dikenal dengan kehidupan yang misterius, Benny dikenal sebagai pemeluk Katolik yang taat. Hal ini ada dalam biografinya yang ditulis Julius Pour.

Benny Moerdani dilahirkan dari seorang ayah yang beragama Islam. Sementara ibunya wanita Indo Jerman yang beragama Katolik. Benny dan adik-adiknya akhirnya mengikuti kepercayaan ibunya.

Ada fakta menarik soal Benny Moerdani. Di akhir hidupnya, Benny meminta agar dikafani dan dibacakan Yasin seperti orang yang beragama Islam.

Kisah sang Jenderal ini diceritakan oleh Adnan Ganto, sahabat sekaligus orang kepercayaan Benny Moerdani. Adnan Ganto merupakan pria asal Aceh yang menjadi bankir kelas dunia. Dia sudah dipercaya oleh Benny Moerdani untuk menjadi penasihat ekonomi Departemen Pertahanan RI sejak tahun 1987.

Dilansir merdeka.com, akhir 1980an Benny mengajak Adnan ziarah ke makam orang tua Benny di Solo, Jawa Tengah. Benny masih menjadi menteri pertahanan dan Adnan masih tinggal di Singapura.

“Nan, saya kasih tahu kamu ya, siapa tahu kamu lihat saya pada saat saya meninggal. Tolong kamu atur supaya saya dimandikan secara Islam. Dikafani,” kata Benny.

“Bapak kan Jenderal Bintang Empat. Saya tinggal di Singapura,” balas Adnan.

“Pokoknya kamu sampaikan saja pesanku,” tegas Benny lagi. Demikian ditulis Nezar Patria dan Rusdi Mathari dalam buku Keputusan Sulit Adnan Ganto, Kisah Seorang Anak Buloh Blang Ara Tiga Dekade Menjadi Bankir di Bank Kelas Dunia. Buku biografi ini diterbitkan Penerbit Circa Yogyakarta tahun 2017.

Sebulan kemudian saat Adnan mengunjungi Benny di rumahnya. Adnan meminta izin untuk menyampaikan wasiat tersebut pada istri Benny, Hartini. Alasan Adnan, harus ada saksi lain soal permintaan Benny tersebut.

Apa jawaban Hartini? “Terserah Benny lah,” kata dia.

Nah saat itulah Benny menambahkan wasiatnya. “Kalau saya dikafani secara Islam, kamu baca Yasin. Kalau Tina (istri Adnan) ada, dia baca syahadat 25 kali,” pesan Benny.

Adnan terus mengingat pesan Benny itu.

Tanggal 26 Agustus 2004, dia sedang berada di New York saat putri Benny Moerdani meneleponnya. Benny kritis di RSPAD.

Adnan bergegas pulang. Tanggal 28 Agustus pukul 20.00 WIB dia tiba di RSPAD.

“Saya menunggu Pak Benny sampai meninggal dan membacakan syahadat sampai embusan napas terakhir,” kata Adnan.

Adnan mengaku tak henti-hentinya membacakan syahadat sedangkan Tina membacakan Surat Yasin. Hal ini mengejutkan orang-orang yang hadir. Salah satunya mantan Wapres Try Soetrisno. Setelah itu datang Laksamana Widodo AS.

Masalah muncul saat pastor datang. Dia meminta jenazah Benny tak dikafani.

“Ini amanat,” kata istri Benny. “Dikafani dan dimandikan secara Islam,” katanya.

Laksamana Widodo AS yang ada di ruangan berusaha ikut menjelaskan. “Pastor, ini permintaan dari beliau,” katanya.

Namun Pastor itu bergeming. Hartini hanya pasrah. Dia berbisik pada Adnan. “Adnan ya sudahlah, yang penting kita sudah mandikan secara Islam.”

Kafan yang semula membalut tubuh Benny kemudian diganti dengan seragam lengkap dinas militer. Jenazahnya dimasukkan ke peti jenazah. Benny dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata sesuai dengan agamanya di KTP: Katolik.

Try Sutrisno juga pernah berkisah diajak Benny ke makam para leluhurnya di Nusa Tenggara Barat. Saat itu Benny berkata. “Try, lihat kamu baca. Ini nenek moyang saya. Orang Islam semua kan, pangeran semua.”

Kisah ini membuka cerita baru soal Benny Moerdani. Si Raja Intel ternyata punya banyak sisi manusiawi.  []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Kamu Sedang Offline