Unik, Informatif , Inspiratif

Kisah Karamah Syekh Muhammad Sholeh, Waliyullah di Tatar Banten

0

Bagi masyarakat muslim di Kawasan Pantai Utara Banten, nama Syekh Muhammad Sholeh bin Abdurrahman tentunya bukan nama yang asing lagi untuk mereka. Pasalnya, beliau adalah seorang ulama penyebar agama Islam di daerah tersebut dan sekaligus merupakan santri dari Sunan Ampel.

Usai menimba ilmu dari Sunan Ampel, beliau kemudian menimba ilmu kepada Sunan Gunung Jati (ayahanda dari Sultan Hasanudin) atau Sultan Syarif Hidayatullah.

Pada masa itu Sultan Syarif Hidayatullah merupakan penguasa Cirebon.

Dalam rangka berdakwah seraya mencari putranya Maulana Hasanudin yang pergi ke Banten dan sudah lama tidak kembali ke Cirebon, Sunan Gunung Jati memerintahkan Syekh Muhammad Sholeh untuk pergi ke Banten.

Ketika itu masyarakat Banten masih beragama Hindu dan masih dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Pemimpinnya kala itu adalah Prabu Pucuk Ulum dengan pusat pemerintahannya berada di Banten Girang.

Akhirnya, Syekh Muhammad Sholeh pun bertemu Maulana Hasanudin di Gunung Lempuyang dekat Kampung Merapit, Desa Ukir Sari, Kecamatan Bojonegara.

Setelah bertemu, Maulana Hasanudin menolak untuk segera kembali ke Cirebon karena merasa terpanggil untuk mengislamkan tatar Banten yang masih banyak memeluk Agama Hindu.

Syekh Muhammad Sholeh pun akhirnya menetap di Gunung Santri yang merupakan salah satu bukit dan nama kampung di Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang dan mulai berdakwah menemani Sultan Hasanuddin.

Maulana Hasanudin pun kemudian mengangkat Syekh Muhammad Sholeh untuk menjadi pengawal sekaligus penasihat dengan julukan “Cili Kored”.

Demikian itu, taklain karena beliau berhasil melalui pertanian dengan mengelola sawah untuk hidup sehari-hari dengan julukan sawah si derup yang berada di Blok Beji.

Namun, syiar Islam yang dilakukan Maulana Hasanudin mendapat tantangan dari Prabu Pucuk Umun sang penguasa kala itu.

Ia merasa semakin kehilangan pengaruh akibat masuknya ajaran Islam yang disebarkan oleh Maulana Hasanudin beserta Syekh Muhamad Sholeh di Banten hingga bagian Selatan Gunung Pulosari (Gunung Karang) dan Pulau Panaitan Ujung Kulon.

Prabu Pucuk Umun pun menantang Maulana Hasanudin untuk bertarung dengan cara mengadu ayam jago dan sebagai taruhannya jika kalah akan dipotong lehernya.

Tantangan Prabu Pucuk Umun lalu diterima Maulana Hasanudin.

Setelah Maulana Hasanudin bermusyawarah dengan pengawalnya, Syekh Muhamad Soleh, akhirnya disepakati yang akan bertarung melawan Prabu Pucuk Umun adalah Syekh Muhamad Sholeh yang bisa menyerupai bentuk ayam jago seperti halnya ayam jago biasa.

Hal ini terjadi karena kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Pertarungan dua ayam jago tersebut berlangsung seru.

Namun, akhirnya ayam jago milik  Maulana Hasanuddin yang memenangkan pertarungan dan membawa ayam jago tersebut kerumahnya.

Ayam jago tersebut berubah menjadi sosok Syekh Muhammad Sholeh sekembalinya di rumah Sultan Maulana Hasanudin.

Akibat kekalahan adu ayam jago tersebut Prabu Pucuk Umun pun tidak terima dan mengajak Sultan Maulana Hasanudin berperang.

Namun, akhirnya pasukan Prabu Pucuk Umun pun dapat dikalahkan dalam perperangan dan mundur ke selatan bersembunyi di pedalaman Rangkas yang sekarang dikenal dengan Suku Baduy.

Setelah selesai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung santri dan melanjutkan aktivitasnya sebagai mubaligh dan menyiarkan agama Islam kembali.

Syekh Muhammad Sholeh wafat pada usia 76 tahun dan berpesan kepada santrinya jika wafat dimakamkan di Gunung Santri.

Di dekat makan beliau terdapat pengawal sekaligus santri Syekh Muhammad Sholeh, yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani Syekh dalam meyiarkan agama Islam.

Syekh Muhammad Sholeh wafat pada tahun 1550 Hijriah/958 M.

Jalan menuju makam Waliyullah tersebut mencapai kemiringan 70-75 Derajat sehingga membutuhkan stamina yang prima untuk mencapai tujuan jika akan berziarah.

Jarak tempuh dari Tol Cilegon Timur 6 Km kearah Utara Bojonegara, jika dari Kota Cilegon melalui jalan Eks Matahari lama sekarang menjadi gedung Cilegon Trade Center 7 KM kearah utara Bojonegara.

Sumber :


Buku Gunung Santri Objek Wisata Religius


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Kamu Sedang Offline