Foto: Canon

Kisah Pertapa dan Kebahagiaan Rakyat Kota

Foto: Canon

INSPIRADATA. Alkisah seorang pertapa turun gunung, ia datang ke kota untuk memenuhi undangan gubernur. Di kota tengah digelar pesta pora atas meningkatnya kesejahteraan rakyatnya.

Di tengah perjalanannya, sang pertapa seringkali berhenti karena banyak orang yang menyambut kedatangannya.

“Guru, lihat betapa bahagianya aku. Kalau dihitung, gaji harianku mungkin sama hasilnya dengan tukang becak yang bekerja selama seminggu,” kata seorang pejabat teras.

“Guru, betapa bahagianya aku hari ini karena mendapat uang tarikan yang lumayan. Saudaraku yang mencari puntung rokok tak seberapa hasilnya kalau dibandingkan dengan hasil jerih payahku,” kata tukang becak sambil menghitung uang.

“Guru, aku bahagia. Hari ini aku mendapat hasil yang berlimpah sementara pengemis tua itu hanya mendapatkan dua bungkus nasi walau ia telah berkeliling mengitari tokok-toko,” kata pemulung.

“Guru, aku bahagia karena hari ini telah mendapat nasi dua bungkus sementara saudara-saudaraku yang lain kelaparan,” kata pengemis sambil memperlihatkan perutnya.

Pertapa itu pun berlalu, ia pulang dengan linangan air mata.

“Bahagia di atas penderitaan orang lain. Bukankah itu sama dengan berharap agar orang lain tetap menderita sehingga kita tampak bahagia?” kata sang pertapa dalam hati. []

 

Sumber: intisari online.


Artikel Terkait :

About Ari Cahya Pujianto

Hanya Pemuda Akhir Zaman yang Terus Memperbaiki Diri

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *