Unik, Informatif , Inspiratif

Kisah Rasulullah dan Lelaki yang Berwasiat Jenazahnya Dibakar, tetapi Malah Dapat Ampunan Allah! Ternyata Ini sebabnya..

0 42

Suatu hari Rasulullah pernah bercerita di tengah para sahabat mengenai dua hal yang kontradiktif. Beliau menyampaikan kisah tentang seorang lelaki yang sepanjang hidupnya penuh dengan gelimang dosa.

Lantaran kelakuannya itu, lelaki tersebut berwasiat kepada keluarganya bahwa jika meninggal, ia minta jenazahnya dibakar.

Bahkan, ia juga berpesan kepada anak-anaknya supaya membuang sebagian abu jasadnya yang usai hangus dilalap api dibuang ke daratan, sebagian lain di lautan.

Wasiat ini muncul dari ketakutan mendalam.

BACA JUGA: Ketika Ali Bin Abi Thalib Bercanda dengan Rasulullah

Si lelaki sadar bahwa Allah ﷻ kelak menyiksanya dan skenario pembakaran serta pembuangan abu tersebut adalah siasat menghindari siksaan itu.

Dosa-dosanya menggunung, sedangkan kebaikannya nihil.

Ia berharap bisa lolos dari azab berat dengan menghilangkan jejak jasmani.

Ketika kematian itu telah tiba, wasiat pun dijalankan dengan baik oleh putra-putranya.

Allah ﷻ Mahakuasa. Saat orang tersebut meninggal dunia, Allah memerintahkan daratan dan lautan untuk menghimpun abu itu dan menghidupkannya kembali.

Allah bertanya kepada si laki-laki, “Mengapa engkau melakukan hal ini?”

“Karena khasyyah (takut), ya Rabb, dan Engkau lebih mengetahuinya,” jawabnya.

Rasulullah mengabarkan bahwa lelaki itu akhirnya mendapat ampunan dari Allah.

Lantas, di mana letak kontradiksinya?

Di satu sisi lelaki itu berlumuran dosa, tetapi di sisi lain menjelang kematiannya ia melakukan ibadah besar, yakni khasyyatu-Llah (takut kepada Allah).

Kisah ini tertuang dalam sejumlah hadits antara lain Shahih Muslim (4/2111) yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri (nomor 2756, 2757), juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari di beberapa tempat dalam Shahih Bikhari.

Rahmat Allah selalu lebih besar dari dosa-dosa hamba-Nya.

Karena itu, harapan akan kasih sayang dan ampunan-Nya senantiasa terbuka selama seorang hamba tulus menaruh harap dan ketundukan.

Kata khasyyah dalam Alquran diidentikkan dengan sifat nabi dan ulama.

BACA JUGA: Hati-hati, Semut Listrik Ini Bisa Sebabkan Rumah Kebakaran

Artinya, ketakutan tersebut bukan semata cemas akan bahaya sesuatu, tetapi dilandasi pula oleh ilmu dan pengagungan terhadap Allah.

Wallahu a’lam bishawab. []

 

Sumber: nu.or.id

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline