Unik, Informatif , Inspiratif

Kisah Sedih Istri dan Anak Tukang Becak yang Divonis 1,8 Tahun karena Becaknya Diserempet Mobil

0

SULTENG–Seorang tukang becak, Rasilu, yang divonis 1,8 tahun oleh Pengadilan Negeri Ambon, membuat keadaan keluarganya semakin kesulitan. Nasib istri dan kelima anaknya menjadi tak menentu.

Rasilu harus merasakan dinginnya jeruji besi lantaran penumpangnya meninggal dunia setelah becaknya diserempet mobil.

Untuk makan istri dan anaknya setiap hari semakin susah. Tiga anak Rasilu juga terancam putus sekolah karena tidak ada biaya.

BACA JUGA: Meskipun Terjadi Kecelakaan Beruntun, Lalin di Tol Becakayu tetap Terlihat Lancar

“Mudah-mudahan bapak bisa segera keluar. Semenjak dia masuk penjara, kami tidak ada makanan. Untung ada tetangga dan keluarga yang bawakan makanan beras dan jagung, untuk kami makan selama enam bulan ini,” kata istri Rasilu, Wa Oni, Senin (4/3/2019).

Rasilu merupakan warga Desa Lolibu, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, yang merantau ke Ambon dan menjadi tukang becak.

Dia menjadi tulang punggung mencari nafkah buat anak-anak istrinya yang berada di kampung.

Musibah terjadi ketika seorang penumpangnya, Maryam, meninggal dunia setelah terjatuh akibat becak milik Rasilu diserempet mobil dan mobil tersebut melarikan diri.

Rasilu kemudian dilaporkan dan ditahan, kemudian divonis penjara oleh Pengadilan Negeri Ambon selama 1 tahun 6 bulan penjara pada sidang putusan yang digelar 20 Februari, dua pekan lalu.

“Saya pikir, itu kecelakaan tidak terduga. Mereka kecelakaan, ditabrak, mereka menjadi korban, mobil melarikan diri. Saya kasihan suami saya menjadi korban, padahal mobil melarikan diri,” ujar dia.

Kini, Wa Oni dan kelima anaknya yang berada di Dusun Litongku, Desa Lolibu, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, hanya bisa menangis dan pasrah dengan keadaan keluarganya yang saat ini semakin sulit.

Untuk bertahan hidup, Wa Oni berjuang sendirian mencari uang agar bisa makan setiap hari dan juga untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Wa Oni pun harus menjadi buruh belah jambu mede, dan digaji Rp 2.000 per kilogram. Dalam sebulan, ia bisa menyelesaikan 100 kilogram jambu mede dan diupah Rp 200.000.

“Jadi, selama bapaknya masuk penjara ini, saya belah jambu untuk kebutuhan anak-anak saya. Habis itu, saya ingat anak-anak, kalau selesai musim jambu, saya mau kerja apa. Selama bapaknya dipenjara, saya punya anak menangis terus,” tutur dia.

Walaupun kesulitan ekonomi, Wa Oni tetap tegar dan memberi semangat kepada anak-anaknya agar tidak putus sekolah.

Ia hanya berharap agar suaminya bisa segara dibebaskan dari penjara, agar kesulitan biaya sekolah anaknya bisa teratasi dan tidak ada yang putus sekolah.

“Saya bilang sabar saja kalian tetap belajar, meskipun bapak dipenjara, saya bilang jangan berhenti sekolah. Mudah-mudahan kakak-kakak bapakmu bisa bantu kalian. Mudah-mudahan bapakmu bisa segera keluar, yang penting kamu lanjutkan sekolah, nanti mama yang usaha,” ucap Wa Oni.

BACA JUGA: Jadi Jutawan Berkat Keong Sawah, Tukang Becak Ini Sebut Awalnya Coba-Coba

Anak Rasilu terancam putus sekolah

Nur Isra, anak sulung Rasilu, yang bercita-cita menjadi guru ini, menyatakan kebulatan tekadnya untuk berhenti sekolah bila ayahnya masih dalam penjara.

“Saya mau berhenti sekolah karena bapakku dia belum keluar (dari penjara). Kalau dia keluar pasti saya bisa lanjut, kesulitan tidak ada uang, dan sekolah jauh 5 kilometer,” kata Nur Isra.

Walaupun ayahnya melarangnya untuk berhenti sekolah, namun ia mengatakan tidak punya uang untuk biaya sekolah.

“Bapak bilang sekolah saja tapi saya bilang begini, bapak, saya mau sekolah tapi kita mau ambil uang dari mana, sedangkan kita makan saja, kita sudah susah,” ungkap dia. []

SUMBER: KOMPAS


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.