foto: majalahayah

Kontroversi Fatwa MUI, Bagaimana Menyikapinya?

foto: majalahayah

INSPIRADATA. Heboh, MUI pada 14 desember lalu mengeluarkan fatwa tentang keharaman pemakaian atribut nonmuslim. Fatwa ini memicu kontroversi, sehingga mengundang perbincangan berbagai kalangan. Bagaimana kita menyikapinya?

Tulisan Iqdam Aun rafiq  yang diposting di akun Facebooknya ini mungkin dapat menjadi bahan renungan dan inspirasi bagi kita sebagai umat muslim dalam menyikapi fatwa ulama tersebut. Inilah tulisannya:

HANYA KARENA ULAMA ‘TIDAK TAHU’

Pagi ini saya sedang di atas Kereta Api Argo Sindoro dalam perjalanan menuju Jakarta. Tidak berbeda dengan penumpang lainnya yang disibukkan dengan gadgetnya masing-masing, saya pun sama.

Sekilas melihat news feed dari status teman-teman saya, nampaknya headline news pagi ini tentang fatwa MUI yang menuai banyak tanggapan, bahkan kabarnya Menteri Agama pun ikut mengomentarinya. Saya khawatir, adab yang tidak baik ini menular dan ditiru oleh rakyatnya.

Karenanya saya ingin sedikit bercerita tentang sebuah kejadian yang pernah terjadi di Arab Saudi, tempat saya menuntut ilmu beberapa tahun yang lalu. Cerita ini saya dapatkan dari teman-teman saya.

Sebuah restoran cepat saji yang menasional dan sangat laku keras di Arab Saudi dalam waktu tiga hari pernah kosong dari pelanggan, sebut saja namanya ‘albaik’.

Kejadian ini pun membuat si owner bingung, apa gerangan yang membuat puluhan restorannya seantero Arab Saudi ditinggalkan pelanggan. Padahal biasanya setiap hari ratusan atau bahkan ribuan porsi selalu habis di setiap outletnya.

Setelah ditelisik, diketahuilah penyebabnya. Ternyata restoran ini ditinggalkan pelanggannya hanya karena sebuah pengajian.

Dalam sebuah kajian ‘fikih sembelihan’ yang diisi oleh seorang ulama anggota dari Departemen Ulama Besar bernama Syaikh Muhammad Mukhtar asy-Syinqithi terdapat seorang yang bertanya, “wahai syaikh, lalu bagaimana dengan restoran albaik, apakah sembelihannya halal?”

Beliau pun menjawab, “tidak tahu, saya belum pernah melihatnya maka saya tidak berani menghalalkan ataupun mengharamkan”

Diluar dugaan, jawaban beliau ini pun tersebar dan membuat banyak orang khawatir dengan status makanan yang biasa mereka beli dari restoran tersebut. Tidak heran jika kemudian selama hampir tiga hari restoran ini sepi dari pelanggan. Padahal beliau hanya menjawab dengan jawaban ‘tidak tahu’, apa jadinya jika sampai beliau mengatakan sesuatu yang haram.

Mengetahui penyebabnya, owner restoran Ini pun mengundang ulama ini ke tempat penyembelihan, dapur hingga bagaimana penyajiannya.

Setelah mengetahui bagaimana prosesnya dan memastikan kehalalannya, beliau pun akhirnya merilis fatwa akan kehalalannya produk restoran albaik.

Tidak lama setelah rilis ini, masyarakat pun kembali yakin dengan kehalalannya dan kembali meramaikannya.

Sahabat, seperti inilah gambaran masyarakat yang menghormati fatwa ulama. Sekalipun fatwa ulama belumlah disahkan menjadi hukum positif, tetapi kedudukan fatwa ulama dalam kelangsungan masyarakat muslim adalah nafasnya.

Maka, mari kita hormati fatwa ulama, kita jadikannya sebagai petunjuk yang memudahkan kita dalam memahami Quran dan Sunnah.

Bayangkan, betapa indahnya tinggal di sebuah masyarakat yang menghormati fatwa ulama.[]

foto: facebook

Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

Jose Mujica, Presiden Miskin yang Menentang Perusahaan Rokok Dunia

Ketika diwawancarai setelah terpilih sebagai presiden, ia hanya memiliki uang tunai sedikit, tidak pernah memiliki rekening bank terlebih kartu kredit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *