foto: ihei

Kan Kubeli Waktumu, Yah…

INSPIRADATA. Sesuatu yang sangat mahal dan tak mungkin kembali serta dibeli adalah waktu, seringkali sebagai manusia yang banyak kebutuhan dan pekerjaan, kita memanfaatkan waktu sekadar yang dianggap baik untuk digunakan bagi kita seorang.

Namun, bagaimana seandainya jika waktu hendak dibeli?

Kisah bermula dari keluarga yang bisa dibilang serba berkecukupan, uang dan makanan tak menjadi masalah bagi mereka. Tapi, keharmonisan bagi mereka hanya bagaikan angin yang berhembus cepat sekadarnya. Kesibukanlah yang membuat mereka sering melupakan kebersamaan.

Sang ayah sebagai kepala keluarga hanya bisa bertemu anaknya ketika si anak telah tidur pulas di kamar. Begitupun berangkat, ketika hari masih gelap. Karena tempat kerja berada di luar kota.

Ketika hari libur si anak menyempatkan diri untuk bertemu dengan ayah dalam keadaan segar, agar bisa mengobrol lebih lama dengannya.

“Kebetulan, besok hari libur, aku akan coba tidur lebih malam supaya bisa bertemu ayah… ya bu,” kata si anak kepada ibunya lewat telapon. Sang ibu hanya menjawab dengan senyuman, sebagai pertanda mengizinkannya.

Malam-pun tiba, akhirnya si anak bisa bertemu dengan ayahnya meskipun malam cukup larut. Tanpa ditemani ibu yang sudah tertidur karena lelahnya dari perkuliahan di luar kota.

“Ayah masih ada tugas, nak! Sebentar saja ya, ngobrolnya!” teriak sang ayah dari ruangan depan.

“Ayah, aku hanya ingin bertanya. Bolehkah?” tanya si anak. “Apa yang kau inginkan nak?” tanya ayahnya balik.

“Berapa gaji ayah?” tanya anak.

“Kok kamu nanya begitu, memang uang jajanmu sudah habis, nak?” sambung ayah.

“Ah, tidak yah. Di dompetku masih ada uang, aku hanya ingin tahu saja…” kata anaknya.

“Coba kamu hitung di kertas, setiap hari ayah bekerja 10 jam, dibayar 400 ribu sehari. Kalau dihitung-hitung, dalam satu bulan ayah bekerja selama 25 hari. Jadi berapa gaji ayah… hayo?” tanya ayah.

“Kalau dihitungan aku ini, berarti ayah gajinya 40 ribu satu jam, betul kah ayah?”

“Ya, betul sekali nak. Sekarang, kamu tidur sana!” suruh ayah.

“Ayah, boleh aku pinjam uangmu 10 ribu?” tanya sang anak.

“Buat apalagi nak? Tidur sana!” jawab ayah sambil meninggikan suara.

“Tapi yah…” rengek si anak.

“Ya sudah, ini, ambil” kata ayah sambil memberikan selembar 10 ribu.

“Nah, terimakasih ayah. Sekarang uangku genap 40 ribu,” kata si anak,

“Akan ku beli waktu ayah agar aku bisa mengobrol denganmu, yah,” lanjut si anak.

Seolah-olah bentakan keras menghampiri sang ayah, ia hanya terdiam dan membisu ketika mendengar perkataan anaknya.

“Sayang, maafkan ayah. Sampai usiamu yang sudah cukup besar ini, ayah masih sibuk sendiri tanpa meluangkan waktu untukmu, maafkan ayah, ya, nak,” kata sang ayah dengan tersedu menahan tangis. []


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

alasan suami selingkuh

Perhatikan, 5 Hal Sepele Ini Bisa Jadi Tanda Pasangan Anda tengah Berselingkuh

Meski demikian, ada juga orang yang tetap biasa saja dengan HP. Kemana-mana dia tidak perlu terlalu sering memegang handphone. Membuka handphone kalau ada notifikasi saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *